Minggu, 17 Agustus 2014

Fanfic NEWS: THE POWER OF SEVEN COLORS ep 3

Malam hari yang dingin itu.
Seorang anak laki-laki berjalan tertatih tatih untuk kabur dari kejaran Semias. Tubuh anak laki laki itu dipenuhi luka dan wajahnya dipenuhi luka lebam. Ia tak kuat lagi berjalan.
Laki Laki itu terduduk lemas sambil terbatuk batuk. Tiba-tiba sebuah cahaya mendatangi dirinya. Dan sebuah keajaiban pun terjadi.

***

Siang hari itu Yuya dan Massu baru pulang sekolah. Rencananya mereka akan mampir dulu ke sebuah restoran makanan cepat saji untuk mengisi perut mereka sejenak.
Tiba-tiba di jalan mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki. Dia memakai topi agak dirundukkan sehingga yang terlihat hanya hidung dan mulutnya saja. Dan laki-laki itu langsung berbicara pada Yuya dan Massu, ''kalian tahu dimana keberadaan para ksatria Seven Colors?''
Tanpa menyapa dan memperkenalkan dirinya, laki-laki tersebut menanyakan hal itu.
"Tunggu, kau siapa?'' Tanya Yuya.
Laki-laki itu memperlihatkan wajahnya dan langsung memperkenalkan dirinya ,''namaku Shigeaki Kato''
"Aku Yuya Tegoshi''
"Dan aku Takahisa Masuda''
"Oh ya kenapa kau menanyakan tentang keberadaan ksatria seven colors? Apa kau penggemar beratnya?'' Tanya Yuya lagi.
"Aku punya urusan dengan mereka. Kalian tahu dimana?'' Yuya dan Massu terdiam. Sebenarnya ksatria seven colors adalah mereka berdua. Mereka berdua tidak boleh mengakui jika mereka adalah ksatria seven colors. Apalagi kepada Laki Laki bernama Shigeaki Kato ini. Ia terlihat mencurigakan.
"Ka...kami tidak tahu. Kami cuma murid sekolah biasa jadi tidak tahu menahu tentang mereka apalagi keberadaannya dimana'' jawab Yuya gugup.
Shige diam, ia lalu mengenakan topinya lagi ,''baiklah, sampai jumpa...'' Shige membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Yuya dan Massu. Tapi tiba-tiba Yuya memanggilnya kembali.
"Tunggu sebentar!''
Shige menghentikan langkahnya.
"Mau ikut kami ke restoran cepat saji tidak?'' Ajak Yuya sambil tersenyum. Shige hanya diam dan menatap mereka berdua. Tapi tiba-tiba Yuya menarik lengan Shige dan mengajaknya ke restoran cepat saji.
Sebenarnya Shige adalah sepupunya Semias. Shige juga masih bersekolah di salah satu SMK favorit. Ia sangat patuh pada perintah Semias.

Sesampainya di restoran cepat saji, mereka bertiga memesan makanan. Sambil menunggu makanan pesanan mereka datang, mereka berbincang-bincang dahulu.
"Rumahmu dimana?'' Tanya Massu kepada Shige. Shige menjawabnya dengan gugup.
"Rumahku... ja.. jauh dari sini''
"Kau sekolah dimana?''
"Di sebuah SMK favorit''
"Wah pasti kau orang kaya ya?''

Lalu pandangan Shige teralihkan ke jam tangan yang dikenakan Yuya dan Massu. Terlihat sangat mencurigakan dan aneh dari jam tangan pada umumnya.
"Jam tangan mereka pasti ada kaitannya dengan ksatria seven colors. Aku harus bisa merebutnya dari tangan mereka dan memberikannya kepada Semias'' gumam Shige dalam hati.
"Wah jam tangan kalian bagus. Beli dimana?'' Tanya Shige berpura-pura kagum.
"Tidak tahu. Ini dibelikan ibuku'' jawab Massu juga berpura pura. Padahal itu jam tangan untuk bertransformasi menjadi ksatria seven colors.
"Boleh aku lihat?''
"Tentu''
Massu melepaskan jam tangan itu dan memberikannya kepada Shige. Namun belum sempat Shige memegangnya, makanan pesanan mereka sudah datang, ''pesanan datang.''
Massu tidak jadi memperlihatkan jam tangan itu kepada Shige ia malah dengan semangat menerima makanan pesanannya.
"Sial! Hampir saja kudapatkan!'' Kata Shige dalam hati.

***

"Ah sepupuku Shige bagaimana, kau sudah bertemu dengan ksatria seven colors?''
Semias menyambut gembira kepulangan sepupu kesayangannya itu.
"Tidak. Tapi aku bertemu dengan 2 orang anak laki laki seumuran denganku. Dan mereka berdua mengenakan jam tangan yang sepertinya ada kaitannya dengan ksatria seven colors''
"Lalu kenapa tidak kau ambil?''
"Aku hampir mendapatkannya! Tapi sial, pelayan restoran itu membuyarkan rencanaku!''
"Kau ke restoran?? Kenapa kau tidak bilang bilang? Aku lapar''
"Pergi saja sendiri! Baka!''
Semias hanya bisa melongo menghadapi sepupunya yang jutek dan dingin itu. Tapi walaupun begitu ia tetap sayang pada sepupunya itu. Dengan langkah cepat, Shige menuju ke kamarnya.
Tetapi di kamarnya ada si Nebula sedang berkaca. Mengetahui ada Shige, Nebula langsung berbalik badan dan tersenyum lebar. Nebula Geulimja nama aslinya, dia juga adalah salah satu anggota The Silent Death. Nebula wujudnya seperti alien. Dia berkuping besar dan berkulit hijau. Kebiasaannya adalah jika melihat kaca, ia langsung berlagak bak artis terkenal.
"Kau sedang apa, Nebula? Cepat keluar dari kamarku!'' Perintah Shige dengan galak.
"A... tidak sedang apa apa... baiklah... sampai jumpa tuan!'' Nebula langsung berlari karena takut dimarahi oleh Shige. Setelah Nebula keluar, Shige langsung menutup pintu dan menguncinya.

***

Pagi hari itu di hari minggu.
Yuya masih saja tertidur pulas. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah 9 pagi. Dan ia punya janji dengan Massu pergi ke mall pukul setengah 9 pagi.
Sementara di luar Massu sudah memanggil-manggil.
"Tegoshi bangun! Ada temanmu di luar!'' Teriak ibunya Yuya untuk membangunkan anaknya itu yang super malas bangun pagi jika sedang libur sekolah. Di dalam kamar Yuya hanya menggeliat dan berkata , '' siapa?''
"Temanmu. Ayo cepat bangun,!''
Yuya melirik jam wekernya. Sudah pukul setengah 9.
"Oh iya, ke mall bersama Massu!'' Yuya langsung bangun dan pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya. Setelah itu ia buru-buru mengganti bajunya.

Setelah itu...
"Maaf Massu. Aku lupa''
"Huh dasar. Ayo jalan''
Mereka berdua pun berangkat ke mall.

Sesampainya di mall mereka bertemu dengan Shige lagi. Yuya langsung menyapanya dengan gembira.
"Kebetulan ya kita bertemu lagi.''
"Ah.. hmm..''

"Hmmh kalian tidak tahu siapa aku sebenarnya'' Gumam Shige dalam hati sambil tersenyum sinis.
Yuya dan Massu pun langsung mengajak Shige berkeliling mall. Mulai dari toko baju, toko sepatu, hingga ke tempat hiburannya. Mereka juga menonton film di bioskop bersama. Hingga perut mereka lapar. Tanpa pikir panjang, mereka mampir ke sebuah restoran.
"Shige, mulai dari sekarang kita berteman ya?'' Kata massu sambil tersenyum. Shige tertegun. Ia ragu berteman dengan orang baik, padahal dirinya adalah penjahat dan sepupunya juga penjahat.
"T...teman?'' Tanya Shige gugup.
"Iya Shige. Teman sejati selamanya'' kata Yuya.
Shige terdiam dan berpikir. Ia takut untuk berteman dengan orang baik. Setelah itu Shige bangkit dari kursinya.
"Maaf aku harus pergi...'' Shige berlari meninggalkan Yuya dan Massu yang sedang kebingungan melihat sikapnya yang aneh.
"Shige kenapa ya?'' Tanya Massu.
"Entahlah....ia memang sedikit aneh''

***

Di rumah, Shige benar benar bimbang. Ia ingin menjadi baik setelah bertemu dengan Yuya dan Massu. Akan tetapi jika semias tahu dirinya akan menjadi baik, Semias akan marah besar. Tapi ia saat itu Shige benar benar ingin sekali menjadi orang baik. Ia terus saja berjalan bolak balik memikirkan semua itu di kamarnya.
Lalu Semias masuk dan melihat sepupunya sedang kebingungan.
"Ada apa sepupuku sayang? Ada suatu hal? Katakan saja padaku'' kata Semias dengan wajah khawatirnya.
"Semias, kenapa kau lebih memilih jadi orang jahat?''
"Ya tentu saja. Menjadi jahat itu menyenangkan, kau tahu? Menjadi penjahat adalah kebanggaan bagiku''
"Menurutku menjadi jahat tidak selamanya menyenangkan''
Semias terkejut mendengar kata kata Shige.
"Kenapa kau berbicara hal itu?''
"Karena... aku... aku... aku ingin berhenti menjadi jahat''
Semias membelalakkan matanya. Ia sangat murka mendengar jawaban Shige, sepupu kesayangannya. Tanpa pikir panjang, Semias langsung menampar pipi Shige dengan keras.
"Kau pengkhianat! Pengkhianat tak pantas hidup!''
Kali ini pukulan keras melayang ke wajah Shige hingga hidungnya berdarah.
Karena mendengar keributan, anak buah Semias datang.
"Ketua, kenapa kau memukul tuan?'' Tanya anak buahnya yang bernama Dexter.
"Dia bukan sepupuku lagi. Dia itu pengkhianat!''
"Maksud ketua apa?'' Tanya Nebula.
"Dia tidak ingin lagi berpihak pada kita, maka dari itu ia lebih pantas mati!''
Semias bersiap melayangkan pukulannya lagi. Tapi tiba tiba tangannya ditahan oleh Shige. Shige langsung menendang perut Semias dengan keras. Ia pun berusaha kabur, Namun Shige dijaga oleh anak buahnya Semias.
Akhirnya bertarunglah mereka. Shige harus menghadapi ke 4 anak buahnya Semias. Berkali kali kalah, tapi Shige tidak akan menyerah. Akhirnya anak buah Semias kalah. Shige pun bisa kabur, walaupun tubuh dan wajahnya penuh luka.
"Jangan lari kau!'' Semias langsung mengejar Shige. Ia masih sangat murka padanya. Ia belum puas jika Shige belum mati.
Shige terus berlari melewati hutan yang gelap. Tak peduli cuaca dingin karena awal musim dingin itu menusuk tubuhnya.
Namun, setengah perjalanan, Shige mulai lelah. Ia pun terduduk lesu. Padahal Semias masih mengejar di belakangnya. Kali ini ia hanya bisa pasrah pada nasibnya.
Tapi tiba tiba, sebuah cahaya biru mendekati dirinya, dan ternyata cahaya biru itu adalah seekor maskot kelinci biru yang lucu. Lalu, maskot kelinci itu langsung masuk ke dalam raga Shige. Dan Shige pun bertransformasi.

"Morph revolution! Blue and white the color of ice, i'm the frozen ice''

Shige terkejut dengan apa yang terjadi barusan. Tubuhnya tidak lagi dipenuhi luka. Kini ia merasa semakin kuat.
Tak lama Semias pun datang, ia juga terkejut melihat Shige.
"Ketua, sepertinya tuan telah menjadi ksatria seven colors!'' Kata Cassara, salah satu anak buahnya Semias.
"Kebetulan, ayo kita bertarung...'' kata Semias sambil tersenyum sinis.

***

Pip pip pip
Jam tangan Yuya dan Massu berbunyi tanda ada bahaya. Tanpa pikir panjang, mereka berdua langsung bertransformasi dan mencari bahaya itu.

Sementara itu Shige masih bertarung dengan Semias. Semias mencoba menyerang Shige dengan kekuatannya, tapi Shige bisa menangkisnya dengan kekuatan barunya, yaitu kekuatan es. Karena selalu kalah, Semias mengeluarkan 4 monster, yaitu monster pasir, singa, batu, dan serigala. Shige agak takut. Tapi ia berusaha untuk tidak takut. Karena sekarang ia telah memiliki kekuatan super.
Tak lama yuya dan massu tiba. Mereka terkejut melihat seorang ksatria seven colors baru. Yuya dan Massu tidak tahu jika itu adalah Shige.
Nebula yang melihat 2 ksatria seven colors lagi langsung berteriak, ''ketua, para ksatria seven colors lagi!''
Tanpa basa basi Yuya dan massu langsung menyerang 2 monster. Yuya menyerang monster pasir, dan massu menyerang monster batu. Shige kaget melihat Yuya dan massu, ternyata mereka berdualah para ksatria seven colors. Dan sekarang dirinya pun juga adalah seorang ksatria seven colors. Shige tersenyum dan langsung menghadapi 2 monster yang tersisa, yaitu monster singa dan serigala.
"Ksatria seven colors, kenapa kalian harus muncul...'' gumam Semias geram. Ia benar benar muak dengan kehadiran para ksatria seven colors. Dan apalagi sepupunya juga menjadi ksatria seven colors.

"COLD FREEZER!"
Shige membekukan lengan monster singa yang bersiap mencakarnya. Monster singa itu mengaum dan memukulkan tangannya ke tanah sehingga es yang menutupi lengannya pecah dan hancur. Monster singa pun bersiap untuk mencakar Shige lagi. Tapi untung Shige bisa menghindar. Ia terbang sampai ke hadapan wajah Monster singa dan lalu Shige membekukan mata Monster singa itu agar kesulitan melihat. Dan Monster singa itu langsung mengaum keras dan tak terkendali hingga jatuh terduduk. Sementara Monster singa sedang payah, Shige langsung mengalahkannya saat itu juga.
"ICE ATTACK!"
Akhirnya Monster singa pun kalah. Kini tinggal Monster serigala.

Sementara itu massu juga sedang berusaha mengalahkan Monster batu. Monster batu itu cukup tangguh hingga membuat massu agak kesulitan.
"Uuhh.. GREEN SEED!"
Sekali lagi Monster itu menangkis serangan massu. Dan lalu memukul massu hingga massu terlempar menabrak pepohonan. Massu meringis kesakitan. Ia lalu teringat bahwa dirinya adalah pengendali tumbuhan. Maka dari itu, Massu menjadikan pohon pohon di hutan itu menjadi rudal untuk menyerang Monster batu.
Monster batu itu jatuh terduduk akibat serangan Massu tadi. Tapi Monster batu itu belum kalah, ia bangkit lagi dan kembali menyerang Massu. Massu juga bersiap menyerang. Monster batu itu melakukan pukulan pertama, namun bisa Massu tangkis dengan tangannya. Setelah itu Massu membalasnya dengan pukulan dan tendangan keras. Hingga Monster itu terdorong ke belakang. Tapi sial, setelah itu Massu tertangkap Monster batu itu dan Massu dicengkram kuat hingga Massu kesulitan bergerak dan bernapas. Setelah agak payah, Monster itu melempar Massu hingga Massu terpental menabrak pepohonan.

Sementara itu Yuya juga berusaha mengalahkan Monster pasir. Memang agak sulit karena Monster pasir itu selalu saja bisa lolos dari serangan Yuya. Sebab Monster itu terbuat dari pasir, ia selalu bisa tembus pukulan dan lemparan. Satu satunya yang bisa mengalahkannya adalah air. Tapi Yuya tidak memiliki kekuatan air, ia cuma punya kekuatan petir. Yuya pun bingung harus bagaimana. Disaat Yuya sedang kebingungan, Monster pasir itu menghajar Yuya sampai Yuya terjatuh diantara pepohonan.

Kini tinggal Shige yang masih kuat. Monster serigala masih ia hadapi. Tapi kemudian Monster serigala itu dibantu oleh Monster batu dan Monster pasir.
"Oh tidak...'' gumam Shige takut. Saat melihat Yuya dan Massu sudah tidak berdaya, ketakutannya semakin menambah. Ia harus hadapi 3 Monster sekaligus!

Serangan dari para Monster itu secara berbarengan sehingga membuat Shige kesulitan. Akhirnya Shige pun juga bernasib sama seperti Yuya dan Massu.

"Hahahaha... Monster monsterku memang tiada tanding'' kata Semias.
"Mampuslah kau ksatria seven colors'' tambah Semias lagi.

Yuya mencoba bangkit dari jatuhnya. Begitu pula Shige dan Massu.
"H...heii...'' panggil Yuya ke Shige.
Yuya terkejut saat melihat Shige. Ia mulai mengenali wajah Shige.
"Shige? Itu kau? Bagaimana kau bisa jadi seperti ini?'' Tanya Yuya lagi.
"Ceritanya panjang, kau tak perlu tahu. Sekarang, kita kalahkan mereka dulu...'' jawab Shige.
"Tapi bagaimana? Mereka sangat kuat'' kata Massu.
"Ayo kita bersatu menggabungkan kekuatan kita'' kata Shige sambil menggenggam tangan Yuya dan Massu.

"Ketua, mereka bangkit!'' Seru Emma.
"Apa?!'' Kata Semias terkejut.
Semias terkejut melihat para ksatria seven colors belum mati.

"COLD FREEZER!"
Serangan pertama dari Shige, membuat ketiga monster itu membeku.
"GREEN SEED!" Serangan kedua dari Massu. Membuat ketiga Monster itu kesakitan di dalam es yang dibuat shige.
"LIGHTNING CRASHING!" Dan Serangan ketiga dari Yuya. Membuat ketiga monster itu hancur bersama es yang membekukan mereka.
Akhirnya ketiga monster itu pun kalah. Semias dan anak buahnya langsung pergi dan malu atas kekalahannya dan mengancam bahwa mereka akan kembali.

"Yeeyyy! Kita berhasil lagi!'' Sorak Yuya senang.
Tapi shige malah berjalan pergi meninggalkan Yuya dan Massu.
"Tunggu, shige kau mau kemana?'' Panggil Yuya.
"Aku tidak pantas bergabung dengan kalian. Aku sebenarnya adalah orang jahat''
"Kau bicara apa shige. Kau Sekarang adalah ksatria seven colors!'' Kata Yuya.
"Iya. Kita bukankah berteman? Kau bukan orang jahat di mata kami'' sambung Massu.
"Iya shige. Kini kau dan kami adalah ksatria seven colors. Jadi harus selalu bersama''
Mendengar kata kata Yuya dan Massu, air mata shige mengalir. Ia sungguh terharu. Ia pun langsung berlari memeluk Yuya dan Massu.
"Terima kasih.... teman''

End.
Tunggu ep 4 nya.

Fanfic NEWS: THE POWER OF SEVEN COLORS ep 2

"Kurang ajar!''
Teriak Semias kesal. Nama lengkapnya adalah Semias Vossen, dia adalah ketua geng jahat ''The Silent Death''. Semias benar-benar marah saat mengetahui kemunculan ksatria Seven Colors.
"Ini tidak boleh dibiarkan! Para ksatria itu bisa menghambatku untuk membuat ketakutan seluruh manusia di bumi! Emma, cepat kau pergi dan habisi mereka!'' Perintah Semias dengan galak.
"Baik, ketua...''

***

Pagi hari di sekolah.
Sekolah sudah ramai didatangi para murid karena sebentar lagi bel berbunyi. Namun saat itu Yuya belum datang.

Saat itu Yuya masih terburu-buru di rumahnya. Dengan cepat ia mengenakan seragam, mengambil tas, memakai sepatu dan berangkat.
"Aku berangkat!''

Yuya terus berlari sampai sekolah sebelum bel berbunyi. Karena jika bel sudah 3 kali berbunyi, maka gerbang sekolah akan ditutup.

Pintu gerbang sekolah sudah di depan mata Yuya. Terdengar bel telah berdering 2 kali. Yuya semakin cepat berlari. Bel yang ke 3 kali pun berbunyi, sedangkan Yuya hampir sampai.

Pintu gerbang mulai ditutup oleh penjaga sekolah.
"Tidak! Jangan dulu!!'' Teriak Yuya panik. Akhirnya dengan sedikit perjuangan Yuya bisa melewati gerbang sekolah. Tepat saat Yuya sudah berada di dalam, gerbang pun tertutup.
Setelah itu, Yuya kembali berlari untuk menuju ke kelasnya. Tapi tiba-tiba ia menabrak seorang anak laki-laki yang sedang terdiam kebingungan mencari kelas.
"Hei kau! Kenapa kau disitu? Kau menghalangi jalan!'' Bentak Yuya pada anak itu.
"Maaf, maafkan aku. Aku sedang mencari kelas baruku yaitu kelas 10 b.'' Jelas anak itu. Yuya menatapnya sejenak sambil mengernyitkan alisnya ,''kau anak baru kah?''
"Iya . Aku baru pindah hari ini. Maukah kau menunjukkanku kelas 10 b?'' Pintanya.
"Oh kebetulan itu kelasku. Ayo ikut!''
Yuya menggandeng tangan anak itu untuk sampai ke kelas 10 b. Sambil berjalan mereka memperkenalkan diri. Nama anak tadi adalah Takahisa Masuda. Dia adalah anak yang baik. Memiliki wajah yang imut dan lucu. Ia pindah sekolah karena mengikuti orang tuanya yang selalu dinas di berbagai kota. Setiap 2 tahun selalu pindah. Memang merepotkan. Massu sebenarnya sudah bosan karena selalu berpindah sekolah. Ia bilang sekolah yang ia tempati kali ini adalah yang terakhir. Tak mau pindah pindah lagi.

"Nah, ini dia kelasku. Kelas 10 b''
Yuya melihat ke dalam kelasnya. Belum ada guru yang masuk. Yuya bernapas lega. Ia lalu menarik tangan Massu dan menyapa semua temannya. Namun Massu belum mau masuk. Ia masih takut melihat teman teman barunya.
"Ayo masuk''
"Na.. nanti dulu. Aku... malu....'' ''hah? Malu?''
"Iya.. kau duluan saja...''
"Massu, kalau kau terus di luar kau akan dimarahi guru''
Massu menundukkan wajahnya. Dan mengangguk , ''baiklah...''.
Massu akhirnya mau masuk ke dalam kelas. Dengan tetap menundukkan wajahnya. Berbeda dengan Yuya yang begitu ceria menyapa temannya dan memperkenalkan Massu ke semua temannya.
"Massu, kau jangan menunduk terus! Cepat kau sapa mereka!''
"Ta... tapi...''
"Sudah cepat sana. Mereka tidak akan menjahatimu''
Dengan gugup, Massu menyapa teman teman barunya, ''ohayou... g... gozaimasu....''
Massu menunjukkan wajahnya yang imut itu. Semua teman teman di kelas 10 b langsung terpana melihat wajah imut Massu.
"Tegoshi, teman barumu super kawaii!'' Teriak salah satu teman perempuan Yuya.
"Lihat, mereka semua senang berteman denganmu'' kata Yuya sambil memegang pundak Massu. Massu hanya tersenyum. Kali ini ia mulai percaya diri untuk menghadapi teman teman barunya.
Yuya mempersilahkan Massu untuk duduk bersama dengannya. Mulai dari situ lah mereka makin akrab. Saat diberi latihan oleh guru, mereka bekerja sama saling membantu. Saat istirahat, mereka pergi ke kantin berdua. Yuya senang telah menemukan teman baru. Dia baik juga punya wajah imut.
"Massu,kau tidak memesan makanan?''
"Ah tidak. Aku sudah bawa bekal''
"Hmm wanginya seperti gyoza''
"Ini memang gyoza. Aku suka sekali gyoza''
"Boleh aku mencobanya?''
"Tentu''
Yuya mengambil salah satu gyoza dari kotak makan milik Massu yang cukup besar , ''mmmyamm... oishii..''
"Kau tahu, ini dibuat berdua bersama kakakku''
"Ini benar benar enak. Kau dan kakakmu memang hebat''.

Sementara itu di kursi paling pojok di kantin ada Emma. Emma sedang menyamar menjadi murid sekolah. Niat ia saat itu adalah membuat seluruh siswa dilanda ketakutan. Karena setiap ketakutan umat manusia akan menjadi energi bagi Semias untuk menghancurkan umat manusia di muka bumi. Tidak hanya Semias yang mendapat energi dari ketakutan manusia, anak buahnya pun juga mendapat energi tersebut. Jadi semakin banyak manusia yang ketakutan, semakin banyak pula energi yang semias dan anak buahnya dapatkan.

Emma sedang mencari waktu yang tepat untuk memulai aksinya, yaitu pada saat pulang sekolah. Karena pasti semua murid akan berhamburan keluar untuk pulang ke rumahnya masing2.

***

"Massu, kita pulang bersama yuk. Kau sendirian kan hari ini?''
"Mm.. ayo''

Saat itu juga Emma memulai aksinya. Dia membuat langitnya menjadi gelap gulita. Semua murid panik melihat sosok Emma yang sedang melayang di udara.
"Hei manusia, bersiaplah untuk hancur dan lenyap dari muka bumi ini!''
"Dan untuk ksatria seven colors cepat tunjukkan sosokmu dan hadapi aku!'' Lanjut Emma. Setelah itu Emma membuat dua buah Monster. Monster ular dan Monster besi. Alhasil semua orang yang ada disana ketakutan.
"Ketakutan kalian adalah kekuatan bagiku wahai umat manusia! Hahaha...'' gumam Emma sambil tertawa jahat.
Lalu 2 Monster itu langsung memulai serangannya. Membuat semua orang lari ketakutan. Dan membuat apa yang ada di dekatnya hancur.

Yuya dan Massu juga ikut panik melihat kejadian itu. Apalagi Massu, ia baru pertama kalinya melihat Monster super besar dan menyeramkan dengan mata kepalanya sendiri.
"Tegoshi, kita harus lari sebelum Monster itu membunuh kita''
"Tidak. Aku akan menghadapi Monster Monster ini''
Mata massu terbelalak kaget, ''Apa!?'' Ia kaget  mendengar kata kata Yuya yang terkesan tidak mungkin berhasil.
"Bagaimana bisa? Ayo cepat kita lari?''
"Kau duluan, Massu!''
Karena Monster semakin mendekat, massu langsung berlari ketakutan. Tapi yuya tidak.

"Tegoshi! Lari! Cepaat!!'' Teriak massu dari jauh.

Yuya tidak lari. Ia akan berubah menjadi The lightning thunder.
"Charge modification! Yellow and orange The color of lightning. I'm the lightning thunder!''

Massu yang melihat Yuya berubah hanya bisa menganga. Dan ia bukannya berlari lagi, malah ia mendekat untuk melihat aksi Yuya melawan Monster Monster itu.
Massu mengucek-ngucek matanya. Ia masih belum percaya apa yang terjadi saat itu.

Emma sangat santai melihat manusia berlari tunggang langgang karena ketakutan. Tapi ia kaget saat melihat monster buatannya tiba-tiba tersambar petir. Yang sebenarnya petir itu adalah kekuatannya Yuya.
"Rupanya kau muncul juga, ksatria seven colors''
"Kau siapa?''
"Namaku adalah Emma Chalice. Anggota The silent death. Misi The silent death adalah mengumpulkan jeritan ketakutan manusia untuk bisa menghancurkan dunia ini''
"Kau tidak boleh menghancurkan dunia manusia!''
Yuya maju untuk melawan Emma. Namun si monster besi langsung melindungi Emma dari serangan Yuya. Karena itu, Yuya terlempar jauh.
"Sial!''
Yuya tidak mau menyerah. Kali ini ia harus melawan si monster besi itu agar bisa berhadapan dengan Emma.
Yuya menendang monster besi itu dengan keras hingga monster itu terjatuh. Sangat terlihat tidak mungkin karena monster besi itu sangat besar. Tapi itulah kekuatan yang luar biasa.

Si monster besi bangkit kembali dan membalas serangan Yuya. Ia berusaha memukul yuya. Akan tetapi Yuya dengan cepat menghindar. Ia bisa menghindar dengan cepat secepat kilat. Hingga monster besi itu kesulitan karena yuya gerakannya begitu cepat.
"Enyahlah kau besi rongsokan besar. VOLTAGE WAY!!!"
Serangan Yuya tepat sasaran. Dan akhirnya monster besi itu kalah. Tinggal satu lagi yang perlu ia hadapi, yaitu monster ular.

"Sekarang tinggal ular jelek ini. Baiklah!''
Yuya kembali bertarung. Kali ini dengan monster ular. Serangan pertama dimulai oleh si monster ular. Monster ular itu menyemprotkan bisanya ke arah Yuya. Tapi untungnya, Yuya bisa menghindar.
Bisa Monster ular itu cukup berbahaya. Bila Yuya terkena bisa itu, ia tidak akan bisa menggerakkan tubuhnya. Agar hilang, si Monster ular itu harus dimusnahkan.
Monster ular itu tak henti hentinya menyemprotkan bisanya hingga membuat Yuya kesulitan untuk menyerang balik.
Akhirnya yuya berlari ke belakang Monster ular itu dan menembakkan kekuatan petirnya dari belakang Monster itu.
Namun sial. Setelah itu, ekor Monster ular melilit tubuh yuya. Dan setelah itu langsung dilemparkannya. Yuya terpental jauh menabrak gerbang sekolah. Monster ular itu langsung menembakkan bisanya ke arah Yuya yang sedang berusaha bangun. Tapi dengan cepat, Yuya membuat perisai petir agar bisa Monster ular tidak mengenai dirinya.
Pertarungan Yuya dengan Monster ular semakin sengit. Yuya juga mulai kewalahan menghindari semprotan bisa Monster ular.
"LIGHTNING BEAM!"
Tapi serangan Yuya tidak mengenai Monster ular itu karena dengan cepat, Monster ular itu menghindari serangan Yuya. Dan Monster ular itu kembali menembakkan bisanya.
Namun sial, Yuya belum sempat menghindar. Maka dari itu ia terkena bisa ular itu. Yuya pun terjatuh dan kesakitan. Dan tubuhnya sulit untuk digerakkan.
"Rasakan itu, ksatria seven colors. Beberapa jam lagi kau akan mati!''

Sementara itu, Massu yang sedang ketakutan bingung harus berbuat apa. Tiba tiba Monster ular mendekatinya dan bersiap menembakkan bisanya.

"Massu!!''
Teriak Yuya. Ia ingin menolong massu tetapi tubuhnya tidak bisa digerakkan. Untungnya massu bisa menghindar.
"Lari massu! Sejauh mungkin!''
"Tapi aku tidak mau meninggalkanmu sendiri!''
"Tak usah pedulikan aku. Cepat lari sebelum Monster itu membunuhmu!''
Monster ular itu semakin dekat ke Massu. Akhirnya Massu kembali berlari.
Akan tetapi tiba tiba Massu terjatuh hingga dengkulnya lecet. Massu sambil sedikit meringis kesakitan, ia berusaha bangun kembali. Ia kembali berlari, namun saat itu ia mulai lelah. Tapi Monster ular itu tetap mengejarnya. Karena Massu sudah terlalu lelah, ia pun jatuh terduduk. Ia pasrah saja akan apa yang terjadi pada dirinya nanti.

Tiba tiba seekor maskot kucing berwarna hijau muncul dan langsung masuk ke dalam jam tangan yang dikenakan Massu. Massu pun langsung bertransformasi menjadi superhero.

"Reborn evolution! Green the color of plants, i'm the Green Plants''

Massu terkejut saat melihat dirinya berubah wujud , ''a...apa yang terjadi?''
Yuya yang melihat dari kejauhan juga ikut kaget melihat Massu berubah menjadi superhero. Sama seperti dirinya.

Monster ular itu sudah berada di depan Massu dan mulai menembakkan bisanya. Massu yang tidak tahu harus berbuat apa hanya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Untungnya sebuah perisai tanaman melindungi dirinya.
Massu menurunkan kedua tangannya. Ia heran melihat pohon berbentuk perisai di depannya. Karena penasaran ada yang aneh di dirinya, Massu menjulurkan tangannya. Ia kaget melihat akar dan dedaunan keluar dari telapak tangannya.
"Aku.. punya kekuatan super kah?'' Gumam Massu bingung.

Monster ular kembali menyerang. Dengan cepat, Massu menghindari serangan tersebut.
Mengingat Monster ular itu telah melukai teman baiknya, Massu pun memberanikan diri untuk bertarung melawan Monster itu demi menyelamatkan Yuya.

Yuya hanya bisa tersenyum bangga melihat Massu dapat bertarung Dengan Monster ular itu. Tapi ia juga khawatir takut Massu terkena semprotan bisa ular besar itu. Ia ingin membantu. Tapi apa daya, tubuhnya tidak bisa digerakkan.

Massu masih terus berjuang melawan Monster ular itu. Ia tak peduli berapa kali terkena pukulan ekor ular besar itu. Yang hanya dipikirannya hanya menyelamatkan Yuya.
"Kau tak akan kumaafkan! BOTANICAL POWER!''
Dddduuuaaarrrrr.......!!!!!

Akhirnya Monster ular itu lenyap dan Yuya bisa kembali menggerakkan tubuhnya.
Sementara itu Emma sangat kesal menerima kekalahannya. Ia pun pergi kembali ke markas the silent death.

"Massu, kau hebat. Dan terima kasih sudah menyelamatkanku''
"Sama-sama. Aku benar-benar tidak menyangka bisa menjadi seperti ini''
"Aku juga awalnya tidak menyangka.''
"Tapi kenapa kita yang terpilih menjadi ksatria seven colors? Kita kan cuma murid sekolah biasa.''
"Itu karena kebaikan dan keberanian hati kita.''
Massu tersenyum. Yuya pun membalas senyuman Massu.
Mereka berdua pun berpelukan. Sorak gembira para warga juga menambah rasa haru mereka berdua.

End.
Tunggu ep 3 nya nanti.

Fanfic NEWS : THE POWER OF SEVEN COLORS ep 1

Author: dwie shigemassu (Dwi Nur Asiah)
Genre: action, superhero
Characters: NEWS member

Hai semua...
Maaf nih baru ngepost lagi. Oh ya, ini aku ada fanfic NEWS, silahkan dibaca....

Tengah malam di sebuah hutan di jepang.
Seorang wanita misterius sedang melakukan ritual pemanggil peri peri maskot kecil yang memiliki kekuatan super. Wanita itu terus mengetuk-ngetukkan tongkat emasnya ke tanah sambil berkata, ''Wahai para peri Negri Seven Colors, turunlah ke bumi dan carilah orang-orang pemberani untuk menghentikan kejahatan yang dibuat oleh para kelompok The Silent Death''
Beberapa lama kemudian muncul sinar berwarna warni dari atas langit. Kemudian sinar itu terbagi menjadi 4 bagian yaitu warna kuning campur orange, hijau, biru campur putih, dan merah. Dan cahaya itu berubah menjadi peri maskot yang lucu.
Wanita itu mengayunkan tongkat emasnya ke atas dan lalu para peri maskot itu pergi untuk mencari para ksatria pemberani itu.

***

Siang itu di kota Shibuya.
Seorang anak laki-laki bernama Yuya Tegoshi sedang menuju ke lapangan untuk berlatih sepak bola. Ia membawa bola kesayangannya yang baru ia beli 2 bulan yang lalu saat ia pergi ke mall bersama temannya.
Lapangan bola yang akan ia datangi tak jauh dari rumahnya. Sesampainya di sana ia menyapa semua temannya yang sudah hadir untuk berlatih.
"Konnichiwa!''
Sapa Yuya dengan senyum lebarnya. Hari itu memang adalah hari yang paling menggembirakan bagi Yuya. Karena sudah seminggu ia tidak main sepak bola karena hujan dan ia sempat sakit selama 3 hari.
"Haa pasti kau membawa bola kesayanganmu kan?'' Tanya salah satu temannya Yuya.
"Pasti! Dia tak boleh kutinggalkan sendirian di kamar''
Tak lama temannya yang lain datang juga ke Lapangan. Mereka datang dengan wajah yang gembira. Cuaca cerah hari itu pun turut serta membuat mereka sangat bersemangat.
Yuya dan temannya berlatih untuk pertandingan sepak bola antar sekolah yang akan berlangsung 1 bulan lagi. Masih banyak waktu untuk berlatih agar bisa menang. Latihan mereka dibimbing oleh guru olahraga mereka, yaitu Kyoichi Sensei. Dia adalah guru olahraga yang baik dan menyenangkan. Semua murid senang diajar oleh Kyoichi Sensei.
Setelah 1 jam berlatih mereka istirahat. Ada yang minum saja dan ada juga yang membawa makan. Saat itu Yuya hanya membawa sebotol sirup dan 2 buah sandwich.
"Tegoshi, boleh kami pinjam bolanya sebentar untuk bermain?'' Pinta salah satu temannya Yuya saat Yuya sedang makan.
"Tunggulah sebentar. Aku juga mau ikut main''
Yuya tidak mau jika bolanya dipakai orang lain tanpa dirinya ikut bermain. Karena ia begitu menyayangi bola itu.

Sementara itu di jalan kota Shibuya yang ramai. Yang tadinya langitnya terang benderang kini berubah menjadi gelap gulita. Langit gelap itu juga menutupi Lapangan tempat Yuya berlatih sepak bola.
"Hah? Hujan lagi, kah?'' Gumam Yuya.
Tiba2 tanah bergetar hebat. Dan lalu dari jalanan kota muncul seekor monster setinggi 25 m menyerang kota dengan ganas. Ketenangan serta kesibukan warga kota kini menjadi ketakutan yang amat sangat. Monster itu merobohkan gedung, menginjak mobil-mobil dan melemparkannya dan juga membuat jalanan menjadi rusak.
Lalu Monster itu menuju ke lapangan dimana Yuya berada. Dengan ganas Monster itu menghancurkan pagar lapangan dan langsung menakut nakuti Yuya dan teman-temannya.
"Lari!! Ada Monster !''
Teman-teman Yuya lari kalang kabut saking takutnya. Yuya juga takut saat itu. Ia lupa bahwa bolanya masih tergeletak di tanah lapangan. Belum sempat Yuya mengambil bola, bolanya sudah terinjak oleh Monster itu dan hancur. Yuya yang melihat itu langsung lemas dan mulai merasa marah.
"Grrrrhhh Monster jelek, kau harus mengganti bolaku!!'' Dengan sangat sangat marah, Yuya berlari menuju Monster itu, tak peduli dengan teriakan temannya yang mencoba mencegah Yuya untuk menghampiri Monster mengerikan itu.
Dengan segenap kekuatannya, Yuya terus memukul-mukul Monster itu. Tapi sang Monster tidak merasakan sakit walaupun Yuya sudah memukulnya dengan keras beberapa kali.
"Ganti bolaku dengan yang baru!'' Teriak Yuya.
Tapi tiba-tiba monster itu menangkap Yuya dan lalu mengaum keras di depan wajah Yuya.
"Huh ... mulutmu bau sekali! Cepat turunkan aku, Monster bau!'' Kata Yuya dengan santai. Tak peduli betapa seramnya Monster itu.
Dengan cepat Monster itu langsung membanting Yuya dengan keras ke tanah lapangan. Oleh karena itu, Yuya pun jatuh pingsan. Sementara itu, si Monster sedang bersiap-siap untuk menginjak Yuya yang sedang pingsan.
Tiba-tiba muncul seekor maskot lucu berbentuk burung merpati berwarna kuning orange datang dan masuk ke dalam jam tangan yang dikenakan Yuya saat itu. Sebuah keajaiban terjadi.
Yuya bertransformasi menjadi superhero!
"Change modification! Yellow and orange, the Color of lightning. I'm the lightning thunder!''
Beruntung saat kaki monster itu hampir mengenai tubuh Yuya, Yuya dengan cepat menghentikannya dan lalu mengangkat monster itu sekuat tenaga. Monster itu benar-benar terangkat tinggi oleh Yuya. Yuya bisa seperti itu berkat kekuatannya. Dan lalu Yuya membanting balik Monster itu dengan keras.
Sadar ada yang aneh dari dirinya, Yuya langsung kaget melihat pakaian yang dikenakannya dan melihat ke kedua telapak tangannya. Ada beberapa kilatan petir di telapak tangannya.
Monster yang tadi telah dibanting Yuya, kini bangkit kembali untuk membalas Yuya. Monster itu mengeluarkan cakarnya dan mengayunkan cakarnya itu ke arah Yuya.
Karena takut, Yuya menyilangkan tangannya. Secara tak sadar, perisai petir terbentuk dan melindungi dirinya dari cakar Monster tersebut. Sementara itu si Monster bergetar hebat akibat mengenai perisai petir Yuya.
"Ow.. ini hebat!'' Gumam Yuya sambil tersenyum.
Si Monster tetap tidak lengah. Ia terus berusaha melawan Yuya dengan cara apapun. Maka dari itu, si Monster menyemburkan api dari mulutnya. Dengan cepat Yuya menghindari semburan api itu.
"Oh kau masih menyerang ya? Kalau begitu, rasakan ini, LIGHTNING BEAM!"
Tapi serangan Yuya meleset. Serangannya malah mengenai tiang listrik. Padamlah listrik di kota itu.
"Ups.. aku salah sasaran...''
Yuya belum dapat menguasai kekuatannya secara utuh. Alhasil saat ia menyerang, selalu saja meleset.
Tiba-tiba Yuya ditangkap lagi oleh Monster itu. Karena sangat marah, Monster itu menggenggam Yuya dengan kuat.
"Lepaskan... aku... uugghhh..''
Yuya berusaha sekuat tenaga agar bisa lepas dari genggaman Monster itu. Seluruh kekuatannya ia keluarkan. Alhasil, si Monster terkena sambaran petir dari kekuatan Yuya dan langsung melempar Yuya jauh-jauh.
Si Monster mulai agak melemah akibat sambaran petir Yuya. Maka dari itu, Yuya menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Monster itu.
"Kali ini harus konsentrasi. LIGHTNING CRASHING!!''
DDUUAARRRRRR!!
Yuya berhasil mengalahkan Monster tersebut.
"Wah.. aku berhasil! Yyeeaahh!'' Sorak Yuya sambil melompat kegirangan.
Setelah Monster itu lenyap, langitnya kembali terang benderang. Yuya senang sekali karena ia bisa menyelamatkan kota dari Monster tadi.

Dari atas gedung, ada seseorang yang menatap Yuya dengan sinis. Ia adalah Emma Chalice anggota The Silent Death.
"Aku akan membalasmu ksatria Seven Colors!''

End.
Selanjutnya di episode 2 yaaa....