Senin, 22 September 2014

Fanfic NEWS: frozen NEWS version part 2

"Tegoshi! Tegoshi! Kau dimana? Ini aku Massu!''
Takahisa terus memanggil manggil Yuya berharap saat itu ia dapat langsung bertemu dengannya. Namun nihil. Tak terlihat jejak kaki Yuya maupun tanda tanda Yuya pergi kemana.
Tiba tiba kuda yang Takahisa tumpangi mendadak seperti mengamuk dan membuat Takahisa terjatuh. Saat Takahisa terjatuh, kudanya malah berbalik arah menuju ke chankapaana kembali.
"Oh tidak, hei! Jangan lari!''
Takahisa juga mengejar kuda itu. Tanpa kuda, ia takkan bisa mencari Yuya. Namun sial, ia malah terjatuh dan terguling hingga ke aliran sungai kecil yang dingin hingga membuat bajunya kaku dan membeku.
"Bagus...''
Lalu Takahisa melihat sebuah toko kecil yang masih buka. Takahisa mencoba bangun untuk menuju ke toko itu.
"Uhhh.... dingin dingin dingin dingin dingin.....''
Takahisa berjalan dengan susah payah dengan baju yang kaku. Akhirnya dengan sedikit perjuangan, ia bisa sampai di depan toko itu.
"Maruyama's shop. With sauna. Ah bagus''
Takahisa masuk ke toko itu dan disambut dengan ramah oleh pemiliknya, Ryuhei Maruyama.
"Yuhuu, kegembiraan musim panas. Aku punya stok lengkap barang musim panas. Seperti sandal, topi, sunblock dan sebagainya''
"Ya itu bagus. Tapi, untuk sekarang, apa ada perlengkapan musim dingin?''
"Mmm... ada di sudut musim dingin kami. Tapi sayang, hanya itu yang tersisa''
Di sudut musim dingin hanya ada kapak, tali, dan sepasang baju plus mantel juga boot. Tapi memang hanya 3 benda yang Takahisa perlukan saat itu. Sambil mengambil ketiga barang itu, Takahisa menanyakan tentang Yuya.
"Apa kau melihat laki2? Atau raja? Yang lewat di sekitar sini?''
"Satu satunya yang lewat pada malam ini hanya kau'' jawab Ryuhei.
Tapi tiba tiba seorang laki laki yang lebih tinggi darinya dengan baju penuh salju masuk.
"....kau dan orang itu. Si pengantar es''
Pemuda dengan baju penuh salju itu mengambil wortel dan pergi ke sudut musim dingin untuk mengambil kapak, dan tali. Dan meletakkan semua barang itu di atas meja.
"Musim panas bersalju ya?'' Celetuk Ryuhei.
"Kurasa ini dari pegunungan utara'' balas si pemuda.
"Semua ini 10 dollar ok?''
"Tidak. 40 dollar''
Pemuda itu langsung protes.
"Biasanya cuma 10 dollar. Kenapa naik?''
Ryuhei menjelaskan semuanya dengan tenang.
"Ini perlengkapan musim dingin. Tapi seharusnya sekarang musim panas''
"Ayolah Maruyama san, 10 dollar saja. Aku tak bawa uang lagi''
"Tidak."
"Kau pelit!''
"Kau berani mengatakanku pelit!''
Ryuhei terlihat geram. Ia lalu menarik pemuda itu dan menendangnya keluar.
"Kau boleh ambil barangmu setelah punya 40 dollar. Bye-bye''
"Sorry Yamapi, aku tak bisa mendapatkan wortel untukmu''
Pemuda yang bernama Shigeaki Kato yang diusir tadi berbicara pada rusa kesayangannya, Yamapi. Hari mulai larut. Untungnya Shige menemukan sebuah gudang tua untuk bermalam sementara.
Di dalam gudang, Shige bernyanyi sambil bermain gitar untuk mengusir rasa galaunya. Tiba tiba Takahisa masuk begitu saja ke gudang itu tanpa permisi.
"Kau bisa mengantarku ke pegunungan utara?''
Shige hanya melirik sebentar, lalu merebahkan dirinya lagi ke tumpukan jerami.
"Maaf. Aku bukan tukang antar'' kata Shige.
Tapi Takahisa tiba tiba melempar kapak dan tali ke arah Shige.
"Awww!''
"Maaf. Itu yang kau butuhkan bukan? Ayo kita berangkat sekarang''
Takahisa terus memaksa Shige agar mau mengantarkannya ke pegunungan utara.
"Ya memang ini yang kubutuhkan. Terima kasih'' Shige berbaring lagi.
"Kau bahkan lupa wortel untuk yamapi''
Bruk! Takahisa melempar sekantung wortel hingga tak sengaja mengenai wajah Shige.
"Maaf maaf . Jadi, bisa kita berangkat sekarang?''
Shige hanya bisa menganga. Terpaksa ia menuruti Takahisa karena ia sudah membelikan barang yang ia butuhkan.

Dengan kecepatan tinggi, Shige menaiki keretanya yang ditarik oleh yamapi. Shige baru tahu jika Takahisa adalah seorang pangeran. Ia benar benar menyesal telah menolak ajakan Takahisa. Tapi Takahisa tidak terlalu peduli dengan hal itu.
"Maaf tadi aku...''
"Sudah lupakan''
"Jadi kenapa kakakmu atau raja marah hingga menciptakan musim dingin ini?''
"Dia marah karena aku terburu buru bertunangan dengan wanita yang baru kukenal sehari''
"Sehari?''
"Benar. Tapi itu tidak menjadi masalah. Cinta sejati tak memandang apapun bukan?'' Takahisa tersenyum. Yang hanya di pikirannya hanya Ryoko saja. Shige tersenyum usil dan mulai bertanya tanya kepada Takahisa yang sedang dimabuk cinta itu.
"Kau tahu makanan kesukaannya?''
"Mmm... sandwich''
"Warna kesukaannya?''
"Emmm... biru''
"Bagaimana cara ia tidur? Dan cara dia mengupil?''
"Mmm cara dia... hei dia itu seorang putri. Mana mungkin melakukan hal jorok seperti itu''
Shige tertawa terbahak2. Malam itu dipenuhi dengan suara suara mereka berdua. Mulai dari tertawa, saling ejek, dan sebagainya. Namun saat sedang asyik bercanda, terdengar auman menyeramkan.
"Shige, apa itu?'' Takahisa mulai takut.
"Entahlah... kurasa ini buruk''
Shige menerangi belakangnya dengan lentera untuk melihat ke arah sumber suara. Ternyata auman itu adalah auman segerombolan serigala.
"Serigala!! Yamapi, percepat langkahmu!'' Perintah Shige.
Mereka semua begitu panik karena mereka dikejar kejar oleh segerombolan serigala itu. Saking paniknya mereka melempar beberapa barang dan Takahisa membakar gulungan jerami menggunakan api lentera dan melemparkannya ke arah segerombolan serigala.

Tapi ternyata di depan ada jalan terputus dan dibawahnya ada jurang yang cukup dalam. Shige mendorong Takahisa ke atas yamapi.
"Kita harus melompat!'' Kata Shige.
"Lompat?''
"Benar, 1  2  3 lompat!''
Mereka semua melompati jurang. Mereka semua selamat, namun kereta shige tidak selamat.
"Keretaku...'' gumam shige lirih.
"Mmm... ok ok... maafkan aku. Aku akan menggantinya nanti. Terima kasih sudah mengantarku. Aku bisa pergi sendiri sekarang'' kata Takahisa sambil meninggalkan shige yang terbaring shock diatas salju bersama yamapi.

"Yamapi keretaku...''
"Hei kau tidak boleh membiarkan dia sendiri'' kata yamapi.
"Tidak boleh?''
"Tidak. Ayo kita temani dia lagi.''
"Kau benar. Hei tunggu aku!''
Shige menyusul Takahisa yang pergi sendiri.
Mereka bertiga melanjutkan perjalanan untuk menemukan Yuya. Tiba Tiba mereka terhenti di sebuah tempat yang penuh dengan kristal es yang teruntai rapi dan terlihat indah. Takahisa tau pasti Yuya yang membuat semua ini.
"Apa ini tanda kita sudah dekat dengan kakakmu?''
"Ya sepertinya. Kristal ini indah ya? Tapi sayang, hanya ada warna putih''
"Kau benar. Cuma ada warna putih''

"Aku rasa warna biru atau merah itu bagus''
Shige dan Takahisa berpandangan. Mereka bingung karena ada suara yang asing bagi mereka. Yamapi pun ikut bingung karena itu pula bukan suaranya.

"Atau kuning? Oh tidak. Es warna kuning? Itu buruk''

Suara itu terdengar lagi. Mereka mencari arah sumber suara. Tiba tiba Takahisa melihat boneka salju di dekat kakinya dan boneka salju itu tersenyum kearahnya.
"Halo, aku Keiichiro Koyama''
"Wuuuaaaaa!!''
Saking takutnya, Takahisa tak sengaja menendang kepala Koyama hingga terpental ke tangkapan Shige.
"Hai....''
"Kau menakutkan''
Shige melempar kepala Koyama kembali ke arah Takahisa. Takahisa menangkapnya dan melemparkannya lagi ke Shige. Terjadi lempar lemparan kepala selama beberapa detik. Koyama si pemilik kepala merasa pusing karena terus di lempar lempar.
"Turunkan aku... kembalikan kepalaku ke badanku''
Badan Koyama sedang berusaha mencari kepalanya juga.
"Wuuuaaaaa!! Badannya!'' Takahisa melempar kepala Koyama tepat di badannya.
"Hah? Aku kembali? Horeeee... aku kembali..'' Koyama melompat lompat kegirangan. Tak begitu menyeramkan seperti apa yang Takahisa bayangkan.
"Fiuhh... ok dari awal lagi. Hai aku Koyama. Dan aku suka pelukan hangat'' Koyama melambaikan tangannya.
"Koyama? Koyama... Koyama...'' Takahisa berpikir sejenak sepertinya ia pernah mengenali nama itu.
"Dan kau juga mereka?''
"Oh aku Takahisa Masuda. Adik dari raja Tegoshi. Dia Shigeaki kato dan rusanya, Yamapi. Oh ya Koyama, apa Tegoshi yang telah membuatmu?''
"Kurasa... iya'' jawab Koyama.
Takahisa menyunggingkan bibirnya. Itu artinya jarak antar dirinya dan Yuya semakin dekat.
"Sepertinya ada yang kurang darimu''
Takahisa mengambil sebatang wortel dan menempelkannya ke wajah Koyama. Tapi terlalu dalam. Hingga terlihat seperti hidung kecil. Koyama bersorak kegirangan sambil memegang hidung kecil barunya itu.
"Waha... hidung! Aku ingin sekali punya hidung!''
"Ups, terlalu kecil kah?''
"Tidak tidak. Ini lucu sekali. Aku jadi terlihat seperti UNICORN kecil dengan hidung kecil yang lucu''
Karena menurut Takahisa kurang bagus, Takahisa mendorong lagi wortel itu ke depan hingga terlihat lebih mancung.
"Wah... ini juga bagus. Jadi, kenapa kalian mencari Tegoshi?'' Tanya Koyama.
Takahisa menjelaskan semuanya bahwa Yuya telah membuat musim salju abadi. Mereka butuh Yuya untuk mengembalikan musim panas. Mendengar kata musim panas, mata Koyama berbinar binar.
"Musim panas? Aku suka musim panas!''
"Memangnya kau pernah melihat musim panas?'' Tanya Shige.
"Belum. Tapi aku membayangkan di musim panas bunga bunga bermekaran, ramai orang pergi ke pantai. Dan sebagainya. Oh aku ingin merasakan musim panas. Jika bisa itu benar benar unik karena ada hal musim dingin di tengah musim panas. Yaitu, diriku''
Koyama lalu bernyanyi tentang kegembiraan musim panas.
Shige dan Takahisa hanya berpandangan. Mereka punya pikiran sama bahwa pasti Koyama akan meleleh di musim panas.

***

Perjalanan di lanjutkan kembali. Kali ini bersama Koyama. Mereka berjalan pelan untuk menghindari kristal kristal es tajam. Yuya pasti membuat semua ini agar tidak ada yang bisa ke tempatnya.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan setelah bertemu dengan kakakmu?'' Tanya Shige.
"Aku akan berbicara kepadanya''
"Kita jauh jauh datang kemari dan kau hanya berbicara padanya?! Kau gila! Ia bisa melukaimu nanti''
Shige tidak puas dengan jawaban Takahisa. Tapi Takahisa membalasnya dengan senyuman lembut.
"Tidak mungkin. Dia adalah kakakku. Ia tak mungkin melukaiku''
"Teman teman! Lihat disana!'' Seru Koyama sambil menunjuk ke arah jembatan es yang membentang indah. Dan juga sebuah istana es yang megah dan mewah berdiri dengan kokoh di sebrang jembatan jurang yang membatasi mereka.

Sementara itu di kerajaan chankapaana.
Kerajaan chankapaana sudah diselimuti salju yang cukup tebal karena musim dingin yang hebat itu. Mereka semua membutuhkan kayu bakar untuk pemanas ruangan, syal, dan jaket untuk membuat mereka tetap hangat. Seharusnya saat itu adalah musim panas. Tapi semuanya berbanding terbalik dengan apa yang Seharusnya terjadi.

"Tolong bagikan syal pada siapa yang membutuhkan'' perintah Ryoko pada pelayannya. Ia juga benar benar sibuk saat ini.
"Tuan, kerajaan menyiapkan sup hangat untuk anda. Silahkan masuk, istana selalu terbuka'' kata Ryoko pada seorang laki2 tua.

Tamu kerajaan yang masih tinggal di istana ikut berkeliling keluar termasuk Ryo dan 2 pengawalnya.
"Uuhh dingin sekali. Aku rasa raja akan menghancurkan tempat ini. Kenapa kau diam saja dan hanya membagikan alat penghangat pada rakyat sini?''
Ryoko dengan sabar menanggapi omongan raja Ryo.
"Pangeran Masuda telah memberiku perintah. Jadi aku harus melaksanakannya dengan baik.''
"Kau tidak tahu jika pangeran bersekongkol dengan penyihir berbahaya itu?!''
"Jangan katakan hal yang buruk soal pangeran!''
Ryoko memotong ucapan Ryo dengan agak marah.
"Aku akan melindungi kerajaan ini dan tidak akan segan segan menghukum orang yang telah berkhianat!''
Ryo terkesiap. Niatnya memang ingin merampas sesuatu yang berharga dari kerajaan chankapaana ini.

Tiba tiba kuda yang tadi dinaikki Takahisa untuk mencari Yuya ternyata berlari melarikan diri kembali ke chankapaana dengan liar. Ryoko yang melihat itu langsung panik dan berusaha menenangkan kuda itu. Sekarang juga ia akan menyusul Takahisa ke arah pegunungan utara.
"Aku butuh beberapa sukarelawan!''
Ryoko berteriak meminta bantuan.
"Kuberi 2 pengawalku!''
Ryo membalasnya dengan lantang. Sambil berbisik kepada 2 pengawalnya.
"Habisi raja bersama musim dingin ini!''

***

Mereka telah sampai di depan pintu istana. Tapi Yamapi di suruh menunggu di sebrang jembatan oleh Shige. Takahisa memberanikan diri untuk masuk ke dalam.
"Oke. Aku akan masuk.''
"Boleh aku ikut masuk?'' Tanya Koyama.
"Tidak. Kalian jangan masuk. Terakhir aku memperkenalkan seseorang padanya, ia langsung membekukan seluruh istana''
"Ayolah. Aku ingin melihat kedalam istana mewah ini'' pinta Koyama tidak mengerti.
"Tidak bisa Koyama. Aku butuh waktu berdua dengan kakakku. Sebentar saja, ok?''
"Sudahlah Koyama, kita tunggu disini dulu'' kata Shige.
"Uuuhh baiklah. Aku akan berhitung saja. 1 2 3 4...''

Takahisa masuk ke dalam istana itu. Ia terkagum-kagum dengan interior kristal alami. Sejujurnya ia sangat bangga dengan kemampuan kakaknya.

"Tegoshi! Tegoshi! Ini aku, Massu! Ayo keluarlah...''

Di balik pilar, yuya yang mengenakan baju yang dilapisi es muncul dan sedikit kaget melihat Takahisa yang berhasil menuju ke tempatnya. Begitu pula Takahisa, ia tak kalah kagetnya melihat yuya.
"Wow.... kau benar benar berbeda. Dan, tempat ini, sungguh luar biasa''
Yuya tersenyum bangga mendengarnya.
"Terima kasih. Sekarang, aku mengerti bagaimana kemampuanku''
Takahisa menaiki tangga kristal yang sedari tadi ia kagumi. Rasanya seperti kristal mahal.

"Dengar, aku minta maaf, waktu itu...''
"Tidak kau tak perlu minta maaf. Tapi kau harus pergi'' kata Yuya sambil menggelengkan kepalanya. Dengan kecewa Takahisa menatap Yuya.
"Tapi aku baru saja sampai''
"Kau Seharusnya berada di kerajaan...''
"Begitu pula kau...''
"Tidak, Massu. Disini tempatku. Sendirian. Tapi aku bebas melakukan apapun tanpa melukai siapapun''

"57 58 59 60....''

Yuya tercengang. Ia bingung mendengar suara yang asing di telinganya.

"Siapa itu?'
Koyama membuka lebar pintu istana dan masuk sambil melompat kegirangan.
"Hai, aku Koyama. Dan aku suka pelukan hangat''
Mata indah Yuya membulat.
"Koyama?''
"Kau yang membuatku. Apakah kau ingat itu?''
"Ini sama seperti yang kita buat dahulu''
Yuya menatap kedua tangannya dengan tatapan tak percaya. Ia tak menyangka kekuatannya benar benar semakin berkembang selama hidupnya.
"Dulu, kita sangat akrab. Aku harap kita bisa seperti itu lagi'' kata Takahisa.
Yuya teringat saat saat ia melukai Takahisa secara tak sengaja lagi. Walaupun sudah lama, tapi ia masih ingat dengan jelas. Ia harus meminta Takahisa untuk pergi. Ia berlari menuju lantai 2. Takahisa juga ikut mengejarnya.

"Pergilah, Massu! Aku hanya ingin melindungimu''
"Aku tak butuh perlindungan! Aku bukan orang yang lemah. Tolong jangan menjaga jarak antara kita! Kita bisa selesaikan ini bersama!'' Teriak Takahisa.
"Kembalilah! Tempatmu bukan disini!''
"Tempatmu juga bukan disini! Kerajaan membutuhkanmu! Kau Sendirian kau butuh teman!''
"Aku memang Sendirian. Tapi aku bebas. Menjauhlah dariku, maka kau aman!''
"Sebenarnya tidak''
"Apa maksudmu tidak?!''
"Kau tahu, kerajaan tertutup salju yang sangat sangat sangat dalam...''
"Apa?'' Yuya membelalakkan matanya kaget. Agak takut, Takahisa mencoba menjelaskan semua yang terjadi.
"Kau menciptakan musim dingin abadi dimana mana. Tapi tidak apa apa. Kau bisa mengatasinya''
"Bagaimana bisa? Aku bahkan tidak tahu caranya''
Yuya benar benar khawatir sekarang.
"Aku yakin kau bisa''
"Pergilah Massu!'' Yuya emosi. Kepalanya hampir pecah memikirkan masalah yang telah diperbuatnya. Takahisa terus saja menyahut tanpa peduli amukan Yuya sedikitpun. Ia tak gentar walaupun badai mulai terbentuk seiring amarah Yuya.
"Massu, cepat pergi! Kau tidak aman disini!'' Yuya juga berusaha menyuruh untuk menjauh dari dirinya.
"Tegoshi, kumohon kembalilah. Kembalikan musim panas kerajaan chankapaana!''
"AKU TIDAK BISA!!"
Tepat saat Yuya berteriak, kekuatannya yang luar biasa memancar keluar menyerang apapun yang di dekatnya. Termasuk Takahisa. Takahisa tak sempat menghindar sehingga ia harus menahan sakit yang hebat di dadanya dan jatuh terduduk.
"Ughhh....''
Yuya berbalik badan dan terkejut melihat Takahisa yang sedang kesakitan.
Tiba tiba Shige masuk tanpa permisi dan terasa asing bagi Yuya.
"Kau tidak apa2?'' Takahisa mengangguk pelan.
"Tunggu, siapa dia? Itu tidak penting. Sekarang, kalian harus Pergi dari sini!'' Yuya merasa takut dengan orang yang tidak dikenalnya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kau mau ikut aku ke chankapaana dan kembalikan musim panas'' kata Takahisa berusaha bangkit.
"Bagaimana caranya? Aku bahkan tidak tahu caranya menggunakan kekuatanku untuk itu? Cepat sana pergi!''
"Aku tak akan pergi!''
"Ya, kau harus pergi sekarang''
Yuya menembakkan kekuatannya ke lantai dan membentuk sebuah monster salju raksasa. Koyama, Shige dan Takahisa menganga lebar melihat monster salju bernama marshmallow itu.

Marshmallow menenteng mereka bertiga dan melemparnya keluar istana.
"Sana pulang!''
"Hei kembalikan badanku juga!''
Marshmallow melempar tubuh Koyama yang terpisah itu.
"Ah anak pintar''
Takahisa geram karena monster itu seenaknya melemparnya keluar dengan kasar.
"Kau tidak sopan ya! Melemparku keluar seperti ini sungguh tidak bisa dimaafkan! Ggrrrrhhh awas kau...''
"Sssttt tenang tenang sekarang, ayo kita pergi.'' Shige mencoba menenangkan Takahisa yang sedang kesal.
"Aku tak bisa tenang! Monster itu sangat menyebalkan!''
"Tapi jika kau terus seperti ini sampai membuat dia marah bagaimana?''
"Oke baik aku tenang...''
"Bagus, ayo pulang!''
"Tapi, RASAKAN INI MONSTER JELEK! HHHIIAAAAHHHHH...."
Takahisa melempar bola salju ke arah Marshmallow. Saat bola salju mengenai Marshmallow, Marshmallow benar benar marah.
"Lihat, sekarang, kau membuatnya marah''
Marshmallow langsung mengejar mereka.
Namun Koyama tertinggal karena tubuhnya masih terpisah.
"Hei badanku! Tunggu!''

***

Shige dan Takahisa terus berlari dari kejaran Marshmallow yang mengamuk akibat lemparan bola salju Takahisa. Mencoba untuk melawan marshmallow, Takahisa menarik salah satu pohon cemara dan akhirnya berhasil membuat Marshmallow terpental dan jatuh berbaring.
"Yeeeyyy aku berhasil melawan marshmallow!'' Seru Takahisa bangga. Shige juga tersenyum bangga.

Namun tiba tiba jalan mereka terputus.
"Oh tidak. Jurang ini dalam sekali'' kata Takahisa.
Shige mengikatkan tali ke pinggang Takahisa.
"Awww! Apa yang akan kita lakukan, Shige?''
"Aku gali disini untuk mengaitkan tali dan dalam hitungan ketiga kita melompat. Jangan khawatir di bawah saljunya tebal. Apabila jatuh terasa jatuh diatas bantal. Oke satu....''
Jelas Shige.
"Baik baik kita akan melompat. Sudah lama aku ingin menikmati musim panas tapi, Tegoshi! Grrhh Tegoshi, kenapa kau tidak punya kekuatan tropis atau apa lah asal Jangan seperti ini...'' Takahisa terus mengoceh tidak Jelas karena kesal kepada Yuya.
"Dua....''
Shige memberi aba2 selanjutnya. Tiba tiba pohon cemara besar terpental dari tengah hutan. Mereka yakin itu marshmallow yang melemparnya. Karena itu Takahisa langsung melompat dan menghitung seenaknya. Padahal Shige belum siap melompat.
"Tiga! Kita lompat!!''
"Hah? Apa? Wuuooooww!!'' Shige juga ikut melompat kebawah Karena kaget.
Dari balik pepohonan ada Koyama dengan badan tidak beraturan. Segera ia membetulkan susunan badannya seperti semula.
"Hei Massu! Yamapi! Kalian semua berhasil lari dari marshmallow kah?'' Teriak Koyama.
Tiba Tiba marshmallow datang. Koyama berusaha mencegahnya untuk berhenti mengejar, tapi ia malah terlempar dan jatuh ke bawah Jurang.

"Hah? Koyama!!'' Teriak Takahisa.
"Berjuanglah kawan!'' Teriak Koyama lagi.
"Ayo Shige lebih cepat turunnya'' kata Takahisa.

Tapi tiba tiba tali mereka perlahan naik ke atas lagi. Shige dan Takahisa begitu panik mencoba melepas tali itu dari pinggang mereka.
Diatas, mereka dikejutkan oleh Marshmallow lagi.
"Jangan pernah kembali!!''
"Kami tidak akan!'' Takahisa terpaksa memotong tali itu dengan pisau yang ia bawa. Alhasil mereka pun terjun ke bawah dengan mulusnya.

***

Bruk!
"Shige, kau benar, memang seperti jatuh Diatas bantal''

"Aku tak bisa merasakan kakiku! Aku tak bisa merasakan kakiku!'' Seru Koyama sambil memegang sepatu boot besar. Namun kemudian Shige bangun dari jatuhnya.
"Tenang Koyama, itu kakiku. Oh itu dia kakimu'' Shige menangkap badan Koyama dan memasangkan Kepala Koyama dengan benar.
"Yamapi! Kau selamat! Ooh kau adalah rusa yang lucu'' Koyama memeluk Yamapi dengan gemas.
Shige lalu membantu Takahisa untuk berdiri.
"Terima kasih. Hhuuff benar benar melelahkan'' kata Takahisa sambil mengibaskan bajunya yang penuh salju.
"Eh Shige, kau tidak apa2 kan? Kepalamu sakit kah?''
"Aww... ya aku tidak apa2. Hanya tengkorakku sakit''
"Aku tak punya tengkorak... atau tulang'' koyama tiba tiba menyambung perbincangan mereka.
"Emmm bagaimana tadi kau sudah berhasil membujuk kakakmu?''
"Oh tidak... bagaimana bisa aku lari darinya. Aku tak bisa kembali ke chankapaana dengan cuaca masih seperti ini!'' Takahisa sangat panik.
"Tenanglah. Jangan khawatirkan itu dulu. Khawatirkanlah rambutmu''
"Apa? Kita baru saja jatuh. Wajar jika rambutku berantakan''
"Rambutmu memutih...''
Shige memberikan cermin ke Takahisa.
"Oh mungkin ini... apa?'' Ia kaget melihat rambutnya mulai memutih sebagian seperti es. Pikirnya itu adalah perbuatan Yuya tadi.
"Akankah ini menjadi buruk?'' Tanya Takahisa mulai panik.
"Mmm... tidak begitu jika kau ikut denganku. Aku punya kawan yang mungkin bisa menyembuhkanmu'' kata Shige.
"Kita akan kemana?'' Tanya koyama polos.
"Kita akan ke seorang yang menjadi pakar cinta itu'' kata Shige.
"Pakar cinta? Kau tahu, aku juga pakar cinta'' kata koyama.
Mereka semua pergi meninggalkan dasar tebing yang penuh salju itu menuju ke tempat yang dimaksud Shige.

Fanfic NEWS: Frozen NEWS version part 1

Characters:
Elsa (boys version) : Yuya Tegoshi
Anna (boys version): Takahisa Masuda.
Kristoff: Shigeaki Kato.
Olaf: Keiichiro Koyama.
Hans (girl version): Ryoko (karakter buatan)
Sven: Yamashita Tomohisa.
The duke of weselton: Ryo Nishikido.
Oaken: Ryuhei Maruyama

Disclaimer:
Ini terinspirasi dari film Frozen. Beberapa mungkin ada yang diubah sedikit.

Malam hari di sebuah kerajaan yang bernama kerajaan Chankapaana yang tenang dan damai, hidup Raja dan Ratu yang memerintah kerajaan tersebut. Mereka memiliki 2 orang anak laki-laki. Yuya Tegoshi sebagai kakak dan Takahisa Masuda sebagai adiknya. Mereka hidup dengan damai.

Yuya dianugerahi kekuatan istimewa, yaitu dapat membuat es, salju, membekukan benda dan beberapa keajaiban lainnya. Ia dan Takahisa sangat suka membuat boneka salju. Malam itu mereka sedang tertidur pulas, namun Takahisa terbangun.
"Pssst... Tegoshi, bangun! Bangun!''
Takahisa kecil menggoyak-goyakan tubuh Yuya yang sedang tertidur dan lalu ia duduk diatasnya.
"Tidurlah Massu, ini sudah malam''
"Tidak bisa, Tegoshi! Langitnya terjaga, aku pun ikut terjaga. Karena itu kita harus main dan bermain'' kata Takahisa masih sambil berguling guling diatas tubuh Yuya.
"Sana tidur, Massu!'' Yuya mendorong Takahisa hingga terjatuh. Takahisa menekuk wajahnya kesal. Lalu ia tersenyum lebar seketika. Takahisa naik ke ranjang Yuya lagi sambil menarik kelopak mata Yuya yang tertutup, ''kau mau membuat boneka salju?''
Yuya membuka matanya dan tersenyum senang. Dengan langkah cepat dan hati-hati, kedua anak itu menuju ruang pesta dansa yang kosong.
"Lakukan keajaiban! Lakukan keajaiban!'' Seru Takahisa.
Yuya menyuruh Takahisa agar mendekat sedikit. Lalu Yuya membentuk salju dari kedua tangannya.
"Kau siap?'' Tanya Yuya. Takahisa mengangguk tak sabar. Yuya melemparkan gumpalan kekuatan es tadi ke atas. Butiran salju yang indah mulai memenuhi ruang pesta dansa kosong itu.
"Ini ajaib!'' Seru Takahisa girang.
Setelah itu mereka bermain bersama. Mereka membuat sebuah boneka salju yang lucu.
"Hai, Massu, aku Koyama. Dan aku suka pelukan hangat'' kata Yuya sambil menggerakkan tangan ranting boneka salju yang bernama Koyama itu. Takahisa berlari dan langsung memeluk Koyama si boneka salju.
Mereka bermain seluncuran, ice skating. Dan Yuya membuat undakan untuk dilangkahi Takahisa.
"Wuhuuu... cepat Tegoshi, tangkap aku!''
"Pasti Massu, hei hati-hati!''
Takahisa semakin cepat dan semangat melompati setiap undakan yang dibuat oleh Yuya.
"Tunggu, Massu!''
Yuya mulai kewalahan karena harus terus terusan membuat undakan. Tiba-tiba ia terpeleset sebelum membuat undakan salju berikutnya untuk pijakan Takahisa.
"Massu, Awas!''
Yuya tanpa sengaja mengulurkan tangannya, menembakkan kekuatannya yang tepat mengenai wajah Takahisa hingga membuat anak laki-laki itu jatuh pingsan. Yuya panik setengah mati dan segera mengangkat Takahisa.
"Ibu! Ayah!''
Kepanikan Yuya bertambah saat melihat beberapa helai rambut Takahisa memutih. Yuya menangis sambil memeluk Takahisa yang sedang pingsan. Ruangan dansa itu seketika membeku seiring tangisan Yuya.
Setelah itu Raja dan ratu datang melihat keadaan mereka berdua. Mereka kaget sekali melihat seluruh ruang pesta dansa membeku.
"Massu, Tegoshi!''
"Ini semua diluar pengawasan!''
Yuya menyerahkan Takahisa kepada ayahnya.
"I...itu kecelakaan. Aku tidak sengaja'' kata Yuya mencoba menjelaskan.
"Aku tahu harus membawa Massu kemana''

Raja menuju perpustakaan dan mengambil sebuah buku untuk mengetahui siapa yang bisa menyembuhkan Takahisa. Setelah itu mereka semua berkuda ke hutan yang berada disebrang danau.
Jejak berkuda mereka membentuk es dari kekuatan Yuya yang membuat seorang anak laki2 dan rusa kecilnya yang sedang istirahat itu bingung.
"Hah? Es?''
Anak laki2 itu segera menunggangi rusa kecilnya itu untuk mengikuti jejak es tersebut.
"Ayo, Yamapi!''

Raja dan keluarga membawa Takahisa ke tempat yang penuh batu berlumut. Kemudian seluruh batu itu berguling dan memperlihatkan wujud aslinya.
"Itu Troll!''
Yuya berpegangan erat kepada ayahnya.
Ketua dari para Troll itu segera memeriksa Takahisa.
"Kau beruntung, es itu tidak mengenai hatinya''
"Kau bisa menyembuhkan anakku?''
"Tentu. Tapi aku harus menghapus memorinya beberapa, jangan khawatir, aku akan menyisakan kebahagiaan di dalamnya''
"Apa ia tidak akan ingat jika aku punya kekuatan khusus?'' Tanya Yuya dengan takut.
"Tentu saja, nak''
Segera Takahisa mulai tersenyum meskipun belum dapat membuka kedua matanya.
Lalu ketua Troll itu mendekati Yuya dan berbicara banyak hal hingga membuat anak laki2 itu ketakutan.
"Tegoshi, kekuatanmu terus berkembang. Ada keindahan di dalamnya, ada juga kehancuran didalamnya. Kau harus bisa mengendalikan kekuatanmu. Jika tidak, kekuatan itu sendirilah yang akan menjadi musuhmu''
Ayah Yuya berpikir sejenak sebelum membuat keputusan.
"Tegoshi akan kujaga. Kupastikan ia bisa mengendalikan kekuatan hingga sampai pada waktunya. Gerbang gerbang akan ditutup, kami juga akan mengurangi staff kerajaan. Melindungi Tegoshi dari dunia luar bahkan dari Massu sekalipun''

Mulai pada detik itu, kehidupan Yuya benar-benar terisolasi. Yang tadinya ia satu kamar dengan Takahisa, kini harus terpisah. Dan ia juga tidak ingin menemui adiknya lagi. Ia takut jika kekuatannya melukai saudaranya itu lagi. Ia merasa kesepian, tapi ia benar benar ketakutan.

Takahisa kini kesepian. Ia tidak ingat apapun tentang kekuatan Yuya. Ia hanya ingat saat2 bermain salju bersama Yuya.
Setiap hari ia tak lelah mengetuk pintu kamar Yuya untuk mengajaknya bermain.
"Tegoshi, maukah kau membuat boneka salju?''
Dengan suara ceria dan imut, Takahisa kecil berteriak di depan kamar Yuya. Namun belum ada jawaban. Takahisa mengintip kesela-sela di bawah pintu.
"Bukankah kita dulu dekat? Mengapa kau menghilang begitu saja? Kita bisa mengelilingi istana... apa kau mau membuat boneka salju? Atau tidak membuat boneka salju tidak apa2...'' tambah Takahisa lagi.
"Pergilah, Massu!'' Jawab Yuya dari dalam.
"Wakatta yo.....''
Wajah Takahisa Yang tadinya ceria, berubah menjadi muram. Ia pergi menjauh dari kamar Yuya dan bermain sendirian. Takahisa mencoba untuk merasa bahagia walaupun seorang diri.

Sementara itu Yuya berdiri di dekat jendela dan menyandarkan tangannya di tepi jendela. Namun hal yang tidak biasa terjadi, tepian jendela tadi perlahan membeku. Segera Yuya menyingkirkan tangannya dari tepian jendela itu. Ia tahu kekuatannya semakin besar. Maka dari itu ia semakin takut.
"Jangan khawatir, nak. Mungkin sarung tangan ini dapat Membantu''.
Ayah Yuya mengenakan sarung tangan ke tangan Yuya.
"Ingat, jangan rasakan, jangan takut, bersikap seperti biasa''
"Aku mengerti, ayah''

2 tahun kemudian mereka tumbuh lebih besar lagi seperti anak anak sekolah dasar. Saat itu juga Takahisa belum menyerah mengetuk pintu kamar Yuya.
"Maukah kau membuat boneka salju? Atau bermain sepeda di dalam ruangan?''
Takahisa terus bernyanyi untuk membujuk Yuya keluar. Tapi tetap saja sama. Yuya tetap tak mau keluar. Takahisa bernyanyi dan bermain sendirian mengelilingi istana. Ia lalu berhenti dan berbaring di depan jam antik.
"Tak tok tak tok tak tok'' bola mata Takahisa bergerak mengikuti gerakan gandulan di dalam jam antik tersebut. Ia benar-benar bosan sekaligus kesepian, tanpa Yuya disampingnya.

Sementara itu Yuya sedang panik karena kekuatannya itu benar benar semakin kuat.
"Ini benar benar kuat. Aku tak dapat mengendalikannya...'' seru Yuya.
"Kau pasti bisa, nak...'' ibu Yuya mendekat untuk menenangkan anaknya itu.
"Tidak! Jangan sentuh aku!'' Yuya menghindar dan mencegah kedua orang tuanya agar tidak mendekat padanya. Karena ia takut kekuatannya juga melukai orang tuanya.

Bertahun tahun kemudian Yuya dan Takahisa tumbuh dewasa. Beberapa tahun lagi Yuya sudah bisa memimpin kerajaan Chankapaana.

Hari itu orang tua mereka ingin mengunjungi kerajaan lain selama 2 minggu.
"Sampai jumpa 2 minggu lagi'' Takahisa memeluk kedua orang tuanya itu.
Yuya membungkuk hormat kepada kedua orang tuanya itu.
"Kalian benar benar akan pergi?''
"Jangan khawatir, kau pasti akan baik-baik saja, Tegoshi'' kata ayahnya Yuya.

Namun, di tengah perjalanan, terjadi badai besar hingga membuat perahu layar yang dinaikki orang tua mereka terombang ambing dan akhirnya tenggelam. Orang tua mereka pun meninggal dunia karena tenggelam di tengah badai besar di tengah samudera itu.
Yuya semakin mengurung dirinya. Tak ada lagi yang bisa mengerti dirinya. Ia merasa sangat hampa tanpa kedua orang tuanya.
Begitu juga Takahisa. Ia tambah kesepian tanpa ketiga orang yang dicintainya. Dengan lesu, ia mengetuk pintu kamar Yuya.
"Tegoshi....''
Takahisa mulai bernyanyi lagi dengan suara lirih.
"Kenapa kau menyembunyikan dirimu? Kita hanya punya satu sama lain. Tolong bukakan pintu, biarkan aku masuk. Semua orang bertanya tentangmu.''
Tubuh pria itu merosot pada daun pintu.
"Maukah kau membuat boneka salju.....''
Air mata Takahisa tak dapat terbendung lagi. Begitu pula dengan Yuya di dalam kamar. Seluruh kamarnya penuh dengan es. Ia juga menangis dan merasa putus asa menghadapi hidupnya. Menghadapi kekuatannya.

2 tahun kemudian....
"Selamat datang di Chankapaana''
Seluruh warga berduyun-duyun datang ke kerajaan Chankapaana. Dan hari itu juga gerbang istana telah terbuka. Karena itu adalah hari penobatan Yuya menjadi raja baru. Warga-warga sangat antusias merayakan hari penobatan itu. Beberapa pemimpin kerajaan lain juga datang untuk merayakan hari penobatan Yuya menjadi raja baru.

Namun Takahisa sang pangeran Chankapaana masih asyik tidur. Dengan rambut acak acakan dan mulut terbuka dan sedikit mendengkur. Sangat tidak cocok untuk seorang pangeran.
Staff kerajaan mengetuk pintu kamar Takahisa untuk membangunkan pangeran malas itu.
"Tuan Masuda cepat bangun''
Takahisa menggeliat.
"Uuuhhh beri aku beberapa menit lagi....''
"Tidak bisa tuan. Tuan harus cepat bangun...''
Takahisa menguap dan duduk sambil menyangga kepalanya dengan tangannya.
"Baik aku bangun''
"Ini adalah hari spesial, tuan. Maka tuan harus bangun lebih awal''
Tapi Takahisa malah tertidur lagi.
"Tuan!''
"Ya iya baik...''
"Ayo cepat siap-siap tuan. Tuan sedang apa sih?''
"Tidak tidak aku tidak sedang apa2...''
"Yasudah bangun''
"Untuk apa?'' Tanya Takahisa dengan mata tertutup.
"Untuk merayakan hari penobatan kakakmu''
"Hari pengobat....''
Takahisa melihat baju yang sudah disiapkan di depan lemarinya.
"Wah! Ini hari penobatan!'' Takahisa langsung segar dan semangat. Tidak mengantuk lagi.
"Ini hari penobatan! Hahaha...'' Takahisa saking semangatnya memutari salah satu staff kerajaan yang sedang repot. Lalu Takahisa yang sudah rapi tersebut bernyanyi dan mengelilingi istana dengan hati gembira.
"Pintu dan jendela telah terbuka... aku tidak tahu mereka lakukan itu lagi... siapa yang tahu kami memiliki 8 ribu piring salad?
Selama bertahun-tahun aku menjelajahi ruang kosong ini. Mengapa memiliki ballroom tanpa bola? Akhirnya mereka membuka gerbang.
Akan ada orang-orang yang hidup nyata yang sebenarnya. Ini akan benar-benar aneh .
Tapi wow, aku begitu siap untuk perubahan ini.

Karena untuk pertama kalinya.
Akan ada musik, akan ada cahaya .
Untuk pertama kalinya
di selamanya aku akan menari sepanjang malam''

"Untuk pertama kalinya... aku tidak akan sendirian.
Saya tidak sabar untuk bertemu semua orang!''
Takahisa terkesiap.
"Bagaimana jika aku bertemu.... seseorang''
" Ooh! Tiba-tiba aku melihat dia berdiri di sana.
Seorang asing yang indah, tinggi dan cantik.
Aku mengisi mulutku dengan coklat''

"Tapi kemudian kami tertawa dan berbicara sepanjang malam, sungguh tidak aneh seperti kehidupan saya telah jauh memimpin.

Untuk pertama kalinya
Akan ada keajaiban, akan ada kesenangan.
Untuk pertama kalinya
aku bisa diperhatikan oleh seseorang.

Dan aku tahu itu benar-benar gila
Bermimpi aku akan menemukan cinta
Tapi untuk pertama kalinya Setidaknya aku punya kesempatan''

Berbeda dengan Takahisa yang sangat ceria, Yuya sangatlah gugup. Hari itu adalah hari pertama kalinya sejak ia tak menampakkan diri di depan umum.

Tego: Jangan biarkan mereka masuk,
jangan biarkan mereka melihat
Jadilah pria yang baik untuk selalu bisa.
Sembunyikan, jangan rasakan, tunjukkan. Membuat suatu gerakan yang salah. Hingga membuat semua orang tahu.

Yuya mencoba melatih memegang benda logam kerajaan tanpa sarung tangan. Namun, tetap saja apa yang ia pegang langsung membeku.

Tego: tapi untuk hari ini
Massu: untuk hari ini...
Tego: menunggu perjuangan
Massu: menunggu perjuangan.
Tego: Katakan kepada penjaga untuk membuka pintu gerbang.
Massu: Pintu Gerbang....
Untuk pertama kalinya...
Tego: jangan biarkan mereka masuk, jangan biarkan mereka melihat...
Massu: Kudapatkan apa yang aku impikan....
Tego: jadilah pria baik untuk selalu bisa....
Massu: Sebuah kesempatan untuk mengubah dunia kesunyianku....
Tego: sembunyikan...
Massu: kesempatan untuk menemukan cinta sejati...
Tego: sembunyikan, jangan rasakan, jangan biarkan mereka tahu.
Massu: Aku tahu itu semua berakhir besok, jadi hari ini...
Untuk pertama kalinya... untuk pertama kalinya...
Tak ada yang menghalangiku....

Bruk!
Takahisa menabrak kuda milik seorang putri hingga Takahisa hampir terjatuh ke danau. Ia jatuh duduk di atas perahu.
"Hei!'' Protes Takahisa. Lalu putri itu turun dari kudanya dan meminta maaf.
"Ups, maafkan aku. Kau Tidak apa2?''
Takahisa mengangguk dan bangkit dari jatuhnya.
"Apa kau penduduk Chankapaana?'' Tanya putri itu.
"Aku pangeran Masuda, adik dari raja Tegoshi, dan kau...''
"Putri Ryoko dari Eighttown. Jadi kau adiknya? Kau datang ke gereja hari ini kan?''
Wanita bernama Ryoko tadi memperkenalkan dirinya dengan sopan. Takahisa tersipu melihat keanggunan dan kecantikan putri Ryoko. Ia tersenyum cerah dan salah tingkah melihat senyum Ryoko.
"I...iya. Aku harus pergi sekarang. Sampai nanti...''
Takahisa berlari meninggalkan Ryoko yang sedang melambaikan tangan dan tersenyum kearahnya. Ryoko dibuat salah tingkah juga oleh laki laki muda itu. Bahkan ia masih saja tersenyum walau Takahisa sudah menghilang dari pandangannya.

Yuya menjalani upacara pengangkatan dirinya dengan gugup. Dengan tetap mengenakan sarung tangan. Mahkota dipasangkan ke kepala Yuya. Dan Yuya harus memegang benda logam khas kerajaan.
"Yang mulia, sarung tanganmu...''
Yuya terpaksa melepas sementara sarung tangannya itu. Ia menarik napas dan memegang kedua benda logam tersebut sambil gemetar.
"Inilah raja baru kita, Raja Tegoshi''
Namun tiba2 karena kegugupan Yuya, benda logam itu mulai membeku sedikit. Setelah itu ia buru buru meletakkan benda logam tersebut dan kembali mengenakan sarung tangan.

"Inilah Raja Tegoshi dan pangeran Masuda!''
Penasihat kerajaan memanggil mereka berdua untuk berkumpul di ballroom istana. Saat itu Yuya dapat sedikit tenang karena tak perlu melakukan apapun selain melihat orang orang yang sedang menikmati pesta.
Yuya melirik ke arah adiknya yang sedang berdiri disampingnya. Berinisiatif untuk memanggilnya.
"Hai...''
Takahisa menoleh dengan kaget. Ia mencoba bersikap seperti biasa. Tentu itu mudah baginya karena ia adalah anak yang ceria.
"Oh.. hai. Hai untukku? Oh ya selamat untuk pengangkatan dirimu''
"Terima kasih. Jadi, inikah yang disebut dengan pesta?'' Gumam Yuya tidak jelas. Melihat orang orang bergembira menikmati pesta. Yuya berpikir pastilah menyenangkan berada disana.
"Bukankah menyenangkan? Aku harap kita bisa seperti ini selamanya. Pintu Gerbang selalu terbuka, dan semua orang bergembira''
"Ya kau benar, Massu''
"Pesta seperti ini adalah hal yang kuimpikan sejak dulu''
"Hmm benar. Dan kau tahu ini aroma apa?'' Tanya Yuya.
"Cokelat!''
Yuya dan Takahisa menyebut kata itu bersama dan langsung terkikik.
"Yah... aku suka sekali coklat'' kata Takahisa.
"Mmm... aku juga'' jawab Yuya.

Seorang Raja bernama Ryo Nishikido berdiri di hadapan Yuya. Yuya hanya tersenyum dan menyuruhnya menikmati pesta dahulu.
"Kau bisa berdansa?''
"Tentu'' jawab Yuya.
"Mengapa kau tidak ikut mereka berdansa?''
"Mmm... tidak. Tidak apa-apa. Oh mungkin Massu mau berdansa bersamamu dan mereka''
Yuya mendorong Takahisa ke arah Ryo. Dan Ryo langsung menarik tangannya, dan langsung menari.
"Kau bisa gerakan ini?''
"Eheh.... woooww'' Takahisa ditarik lagi dan diputar putar. Yuya hanya tertawa melihat adiknya menari aneh bersama Ryo.
Sebenarnya Ryo bukanlah orang baik baik. Sejak awal ia mulai curiga ada yang aneh dari kerajaan Chankapaana yang cukup terisolasi. Ia hanya tinggal menunggu kesempatan datang untuk menguak rahasianya.

"Fuuhh... melelahkan. Tapi menyenangkan. Dia juga ahli dalam berdansa''
Takahisa tersenyum dan melirik kearah Yuya yang sedang tertawa kecil karena tingkah Ryo dan Takahisa.
"Hei Tegoshi, kau senang kan? Aku harap besok dan seterusnya bisa selalu seperti ini. Benar begitu, Tegoshi?''
Tiba2 Yuya tertegun. Ia tak bisa membayangkan seperti ini terus selamanya. Mengingat kekuatannya yang semakin kuat, membuatnya menjadi takut berada di hadapan umum.
"Tidak! Kita tidak bisa...''
"Tapi kenapa?''
"Sudah kubilang Tidak bisa tetap tidak bisa!''
Takahisa terdiam. Ia benar benar heran dengan tingkah kakaknya. Dengan kecewa Takahisa meninggalkan Yuya sendirian.
"Permisi sebentar....''

Takahisa melewati orang orang banyak yang sedang berdansa. Tiba-tiba ia tertabrak punggung laki2 berbadan gendut hingga terpental dan menabrak seorang wanita yang ternyata adalah Ryoko.
"Ryoko! Kau datang malam ini''
Takahisa merasa agak sedikit terobati rasa kecewanya. Setelah itu Takahisa mengajaknya untuk berkeliling area istana, berdansa, dan saling bercerita.
"Aku belum pernah bertemu putri lain atau menciumnya, aku selalu bermimpi mencium Troll dan itu buruk bagiku''
Takahisa menceritakan pengalaman cintanya yang masih melompong.
"Tentu saja kau harus bertemu dengan wanita yang kau suka'' Ryoko menanggapinya dengan sedikit tertawa.
"Kau berapa bersaudara?''
"12. 3  diantaranya menganggapku tidak ada. Itu secara harfiah''
"Oh itu sama dengan kakakku. Maksudku, aku dan Tegoshi dulunya sangat dekat. Tapi, suatu hari ia mendiamkanku sampai sekarang. Aku tidak tahu alasannya kenapa''
"Yah itulah kadang seorang kakak. Mereka mudah berubah''
"Nee, Masuda, aku ingin mengatakan satu hal yang gila padamu''
"Oh tentu saja. Aku suka kegilaan''

Malam itu mereka menyanyi dan menari tentang cinta di sekitar istana. Walaupun baru sehari, mereka berani mengatakan perasaan mereka masing-masing.

Ryoko berbisik ke telinga Takahisa.
"Kau suka pernikahan? Jika kau suka, aku mau menikah denganmu'' Ryoko tersenyum lebar.
"Tentu aku suka! Ryoko, kau yakin ingin menikah denganku?''
"Apakah aku boleh mengatakan hal yang lebih gila lagi? Tentu saja ya!''

***

Takahisa kembali lagi ke ballroom sambil menarik Ryoko dengan gembira menemui Yuya.

"Tegoshi, aku kembali. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku akan menikah dengan Ryoko''
Yuya melotot kaget. Ia sangat terkejut dan nampak tidak setuju dengan pernyataan Takahisa yang terkesan tanpa persiapan.
"Bukankah kalian baru saling kenal? Bagaimana bisa memutuskan secepat itu?''
Dengan tersenyum Takahisa melanjutkan bicaranya.
"Entahlah. Mungkin harus menyiapkan beberapa hal seperti tamu, makanan. Dan sebagainya. Oh dan setelah kita menikah Ryoko bisa tinggal disini bersama dengan ke sebelas saudaranya!''
"Tidak!''
"Apa?''
"Kau ingin membawa dia dan sebelas saudaranya? Aku katakan tidak. Dan kau meminta restu dariku, aku juga katakan tidak! Apa yang kau tahu soal cinta, Massu?''
Takahisa menatap Yuya dengan kecewa.
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Kau selama ini mengurung diri. Jadi kaulah yang tidak tahu soal cinta!''
"Massu, bisa kita bicara berdua. Hanya berdua''
"Tidak! Jika Kau ingin bicara, bicaralah pada kami berdua''
"Cukup! Dan tidak ada yang menikah! Tutup pintu gerbangnya! Pesta telah usai! Sebaiknya kau pergi sekarang''
Kekesalan Takahisa tak tertahankan lagi. Ia menarik salah satu sarung tangan Yuya hingga membuat Yuya geram.
"Kembalikan!''
"Kenapa kau selalu menjauh dari orang lain?''
"Cukup, Massu...'' Yuya berbalik badan dan berjalan menjauhi Takahisa.
"Jawab aku. Kenapa kau tak pernah bicara padaku ataupun dengan orang lain? Kau tak pernah cerita apapun padaku? Kenapa? Apa yang kau takutkan? Sampai sampai kau tak mau merestui pernikahan aku dan Ryoko?''
"Aku bilang, CUKUP!!"
Yuya benar benar tidak tahan. Ia berbalik badan dan tanpa sengaja kekuatan memancar keluar hingga membentuk kristal es tajam.

"Hah? Penyihir?''
"Sudah kuduga!''
"T...tegoshi...''
Bisikan hinaan mulai memenuhi ruangan itu. Karena panik, Yuya berlari keluar ruangan menghindari kejaran Ryo dan 2 pengawalnya yang sedang mengejarnya.
"Tidak! Tolong jangan mendekat!''
"Kau monster mengerikan!'' Seru Ryo.
"Jangan mendekat!''
Kekuatan Yuya melesat lagi hingga membuat Ryo jatuh terduduk.
Yuya semakin takut dan panik. Ia berlari lagi menjauhi Ryo dan kedua pengawalnya karena takahisa juga kerap mengejarnya.
Di luar ternyata lebih ramai daripada di ballroom tadi.
"Ahh...yang mulia Raja Tegoshi kami yang tampan''
Kata salah satu rakyat Chankapaana sambil menunduk hormat.
"Tolong jangan mendekat!''
Yuya mundur untuk menjauhi rakyatnya itu. Ia tak tahu dibelakangnya ada sebuah air mancur. Ia pun menabrak air mancur itu dan air mancur itu langsung membeku seketika. Membuat semuanya terkejut. Yuya kembali berlari.

Tak hanya itu kekacauan yang ia buat. Tiba2 saja turun salju di malam musim panas itu. Membuat semua orang bingung dan khawatir.

Di hadapan Yuya, terbentang danau luas. Tanpa pikir panjang, ia langsung melangkahkan kakinya diatas danau dan membekulah permukaan danau itu. Maka dengan mudahnya, ia bisa berlari dari kejaran takahisa yang membujuknya untuk kembali.

Takahisa berhenti berlari mengejar Yuya di tepian danau. Kakinya mulai lelah karena Yuya terus saja berlari dan semakin sulit untuk dijangkau.
"Ah , Masuda, lihat danaunya!''
Akibat pijakan kaki Yuya yang menimbulkan kristal es, seluruh danau jadi membeku. Menutup jalur perairan Chankapaana. Tak hanya itu. Kerajaan Chankapaana juga terancam musim dingin abadi.

"Ryoko, ini buruk'' kata Takahisa lesu.
"Ini semua salahku. Seandainya tadi aku tidak memaksanya, ini semua takkan terjadi''
Ryoko juga merasa bersalah.
"Aku juga salah...''
"Tidak Ryoko. Aku yang salah. Aku akan menyusulnya sekarang''
Ryoko kaget dengan keputusan Takahisa. Ia menatap laki2 itu khawatir.
"Kau yakin? Tapi itu berbahaya. Ia bisa melukaimu nantinya''
"Tidak apa2... dia kakakku. Tak mungkin ia melukaiku''
Sesegera mungkin Takahisa mengambil kuda dan memakai jubah agar tidak dingin. Ia menunggangi kuda itu untuk menyusul Yuya.
"Ryoko, kutitipkan kerajaan ini padamu. Aku segera kembali''
"Sebuah kehormatan untukku. Aku akan melaksanakannya dengan baik''
"Aku berangkat''
Sebenarnya berkuda ke hutan di sebrang danau bukanlah hal yang mudah pada malam itu. Karena cuaca begitu dingin, tanah yang tertutup salju menyulitkan gerakan kuda. Dan jarak pandang di malam hari lebih rendah dibanding siang hari.

***

Sementara itu Yuya berjalan sendirian ke arah pegunungan utara. Di tengah kesendiriannya itu, ia berkata pada dirinya sendiri Untuk menguatkan hatinya.

"The snowglows white on the mountain tonight. Not a footprint to be seen.
A kingdom of isolation, and it looks like i'm the king.
The wind is howling like this swirling storm inside.
couldn't keep it in heaven knows i tried''

Yuya mulai agak semangat. Ia mulai bangkit kembali.

"Don't let them in, don't let them see.
Be the good guy you always have to be.
Conceal don't feel don't let them know.
Well now they know''

Yuya membuang sarung tangan yang masih melekat di salah satu tangannya dan mulai menebarkan kristal es kesana kemari sesuka hatinya. Dan membuat sebuah boneka salju.
"Let it go, let it go,
Can't hold it back anymore.
Let it go, Let it go,
Turn away and slam the door.
I don't care, what they're going to say.
Let the storm rage on.
The cold never bothered me anyway''
Yuya juga melepas jubah untuk menahan cuaca dingin itu. Sekarang, hanya kebebasan yang ia punya.

"It's funny how some distance, makes everything seems small.
And the fears that once controlled me, can't get to me at all.

It's time to see what i can do to test the limits and breakthrough.
No right, no wrong, no rules for me
I'm free''
Yuya membuat tangga dan jembatan untuk menyebrangi jurang dan tebing dengan Kekuatan es nya itu. Dengan sangat gembira Yuya menyebrangi jurang yang dalam itu hanya dengan melangkahkan Kakinya.
"Let it go, Let it go,
I'm one with the wind and sky.
Let it go, Let it go,
you'll never see me cry.
Here i'll stand. And here i'll stay.
Let the storm rage on.''
Dengan segenap Kekuatannya, Yuya membangun istana es yang megah hanya dengan kekuatan es spesialnya. Pilar pilar istana seperti cermin raksasa yang indah. Langit langit istana ia hias dengan kristal pula. Dan lantainya memantulkan bentuk kristal es.
"My power fluries through the air into the ground.
My soul is spiraling in Frozen fractals all around.
And one thought crystallizes like an icy blast.
I'm never going back, the past in the past!''
Yuya juga membuang mahkota yang menghiasi kepalanya sejak tadi. Dan ia juga melapisi bajunya dengan es. Terlihat sangat tidak mungkin. Tapi inilah kekuatan yang luar biasa.
"Let it go, Let it go,
And i'll rise like the break of down.
Let it go, Let it go,
That perfect girl is gone.
Here i stand. In the light of day.
Let the storm rage on!
The cold never bothered me anyway''
Yuya menutup pintu istana. Ia tidak ingin diganggu oleh siapapun lagi.

Minggu, 17 Agustus 2014

Fanfic NEWS: THE POWER OF SEVEN COLORS ep 3

Malam hari yang dingin itu.
Seorang anak laki-laki berjalan tertatih tatih untuk kabur dari kejaran Semias. Tubuh anak laki laki itu dipenuhi luka dan wajahnya dipenuhi luka lebam. Ia tak kuat lagi berjalan.
Laki Laki itu terduduk lemas sambil terbatuk batuk. Tiba-tiba sebuah cahaya mendatangi dirinya. Dan sebuah keajaiban pun terjadi.

***

Siang hari itu Yuya dan Massu baru pulang sekolah. Rencananya mereka akan mampir dulu ke sebuah restoran makanan cepat saji untuk mengisi perut mereka sejenak.
Tiba-tiba di jalan mereka bertemu dengan seorang anak laki-laki. Dia memakai topi agak dirundukkan sehingga yang terlihat hanya hidung dan mulutnya saja. Dan laki-laki itu langsung berbicara pada Yuya dan Massu, ''kalian tahu dimana keberadaan para ksatria Seven Colors?''
Tanpa menyapa dan memperkenalkan dirinya, laki-laki tersebut menanyakan hal itu.
"Tunggu, kau siapa?'' Tanya Yuya.
Laki-laki itu memperlihatkan wajahnya dan langsung memperkenalkan dirinya ,''namaku Shigeaki Kato''
"Aku Yuya Tegoshi''
"Dan aku Takahisa Masuda''
"Oh ya kenapa kau menanyakan tentang keberadaan ksatria seven colors? Apa kau penggemar beratnya?'' Tanya Yuya lagi.
"Aku punya urusan dengan mereka. Kalian tahu dimana?'' Yuya dan Massu terdiam. Sebenarnya ksatria seven colors adalah mereka berdua. Mereka berdua tidak boleh mengakui jika mereka adalah ksatria seven colors. Apalagi kepada Laki Laki bernama Shigeaki Kato ini. Ia terlihat mencurigakan.
"Ka...kami tidak tahu. Kami cuma murid sekolah biasa jadi tidak tahu menahu tentang mereka apalagi keberadaannya dimana'' jawab Yuya gugup.
Shige diam, ia lalu mengenakan topinya lagi ,''baiklah, sampai jumpa...'' Shige membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan Yuya dan Massu. Tapi tiba-tiba Yuya memanggilnya kembali.
"Tunggu sebentar!''
Shige menghentikan langkahnya.
"Mau ikut kami ke restoran cepat saji tidak?'' Ajak Yuya sambil tersenyum. Shige hanya diam dan menatap mereka berdua. Tapi tiba-tiba Yuya menarik lengan Shige dan mengajaknya ke restoran cepat saji.
Sebenarnya Shige adalah sepupunya Semias. Shige juga masih bersekolah di salah satu SMK favorit. Ia sangat patuh pada perintah Semias.

Sesampainya di restoran cepat saji, mereka bertiga memesan makanan. Sambil menunggu makanan pesanan mereka datang, mereka berbincang-bincang dahulu.
"Rumahmu dimana?'' Tanya Massu kepada Shige. Shige menjawabnya dengan gugup.
"Rumahku... ja.. jauh dari sini''
"Kau sekolah dimana?''
"Di sebuah SMK favorit''
"Wah pasti kau orang kaya ya?''

Lalu pandangan Shige teralihkan ke jam tangan yang dikenakan Yuya dan Massu. Terlihat sangat mencurigakan dan aneh dari jam tangan pada umumnya.
"Jam tangan mereka pasti ada kaitannya dengan ksatria seven colors. Aku harus bisa merebutnya dari tangan mereka dan memberikannya kepada Semias'' gumam Shige dalam hati.
"Wah jam tangan kalian bagus. Beli dimana?'' Tanya Shige berpura-pura kagum.
"Tidak tahu. Ini dibelikan ibuku'' jawab Massu juga berpura pura. Padahal itu jam tangan untuk bertransformasi menjadi ksatria seven colors.
"Boleh aku lihat?''
"Tentu''
Massu melepaskan jam tangan itu dan memberikannya kepada Shige. Namun belum sempat Shige memegangnya, makanan pesanan mereka sudah datang, ''pesanan datang.''
Massu tidak jadi memperlihatkan jam tangan itu kepada Shige ia malah dengan semangat menerima makanan pesanannya.
"Sial! Hampir saja kudapatkan!'' Kata Shige dalam hati.

***

"Ah sepupuku Shige bagaimana, kau sudah bertemu dengan ksatria seven colors?''
Semias menyambut gembira kepulangan sepupu kesayangannya itu.
"Tidak. Tapi aku bertemu dengan 2 orang anak laki laki seumuran denganku. Dan mereka berdua mengenakan jam tangan yang sepertinya ada kaitannya dengan ksatria seven colors''
"Lalu kenapa tidak kau ambil?''
"Aku hampir mendapatkannya! Tapi sial, pelayan restoran itu membuyarkan rencanaku!''
"Kau ke restoran?? Kenapa kau tidak bilang bilang? Aku lapar''
"Pergi saja sendiri! Baka!''
Semias hanya bisa melongo menghadapi sepupunya yang jutek dan dingin itu. Tapi walaupun begitu ia tetap sayang pada sepupunya itu. Dengan langkah cepat, Shige menuju ke kamarnya.
Tetapi di kamarnya ada si Nebula sedang berkaca. Mengetahui ada Shige, Nebula langsung berbalik badan dan tersenyum lebar. Nebula Geulimja nama aslinya, dia juga adalah salah satu anggota The Silent Death. Nebula wujudnya seperti alien. Dia berkuping besar dan berkulit hijau. Kebiasaannya adalah jika melihat kaca, ia langsung berlagak bak artis terkenal.
"Kau sedang apa, Nebula? Cepat keluar dari kamarku!'' Perintah Shige dengan galak.
"A... tidak sedang apa apa... baiklah... sampai jumpa tuan!'' Nebula langsung berlari karena takut dimarahi oleh Shige. Setelah Nebula keluar, Shige langsung menutup pintu dan menguncinya.

***

Pagi hari itu di hari minggu.
Yuya masih saja tertidur pulas. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah 9 pagi. Dan ia punya janji dengan Massu pergi ke mall pukul setengah 9 pagi.
Sementara di luar Massu sudah memanggil-manggil.
"Tegoshi bangun! Ada temanmu di luar!'' Teriak ibunya Yuya untuk membangunkan anaknya itu yang super malas bangun pagi jika sedang libur sekolah. Di dalam kamar Yuya hanya menggeliat dan berkata , '' siapa?''
"Temanmu. Ayo cepat bangun,!''
Yuya melirik jam wekernya. Sudah pukul setengah 9.
"Oh iya, ke mall bersama Massu!'' Yuya langsung bangun dan pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya. Setelah itu ia buru-buru mengganti bajunya.

Setelah itu...
"Maaf Massu. Aku lupa''
"Huh dasar. Ayo jalan''
Mereka berdua pun berangkat ke mall.

Sesampainya di mall mereka bertemu dengan Shige lagi. Yuya langsung menyapanya dengan gembira.
"Kebetulan ya kita bertemu lagi.''
"Ah.. hmm..''

"Hmmh kalian tidak tahu siapa aku sebenarnya'' Gumam Shige dalam hati sambil tersenyum sinis.
Yuya dan Massu pun langsung mengajak Shige berkeliling mall. Mulai dari toko baju, toko sepatu, hingga ke tempat hiburannya. Mereka juga menonton film di bioskop bersama. Hingga perut mereka lapar. Tanpa pikir panjang, mereka mampir ke sebuah restoran.
"Shige, mulai dari sekarang kita berteman ya?'' Kata massu sambil tersenyum. Shige tertegun. Ia ragu berteman dengan orang baik, padahal dirinya adalah penjahat dan sepupunya juga penjahat.
"T...teman?'' Tanya Shige gugup.
"Iya Shige. Teman sejati selamanya'' kata Yuya.
Shige terdiam dan berpikir. Ia takut untuk berteman dengan orang baik. Setelah itu Shige bangkit dari kursinya.
"Maaf aku harus pergi...'' Shige berlari meninggalkan Yuya dan Massu yang sedang kebingungan melihat sikapnya yang aneh.
"Shige kenapa ya?'' Tanya Massu.
"Entahlah....ia memang sedikit aneh''

***

Di rumah, Shige benar benar bimbang. Ia ingin menjadi baik setelah bertemu dengan Yuya dan Massu. Akan tetapi jika semias tahu dirinya akan menjadi baik, Semias akan marah besar. Tapi ia saat itu Shige benar benar ingin sekali menjadi orang baik. Ia terus saja berjalan bolak balik memikirkan semua itu di kamarnya.
Lalu Semias masuk dan melihat sepupunya sedang kebingungan.
"Ada apa sepupuku sayang? Ada suatu hal? Katakan saja padaku'' kata Semias dengan wajah khawatirnya.
"Semias, kenapa kau lebih memilih jadi orang jahat?''
"Ya tentu saja. Menjadi jahat itu menyenangkan, kau tahu? Menjadi penjahat adalah kebanggaan bagiku''
"Menurutku menjadi jahat tidak selamanya menyenangkan''
Semias terkejut mendengar kata kata Shige.
"Kenapa kau berbicara hal itu?''
"Karena... aku... aku... aku ingin berhenti menjadi jahat''
Semias membelalakkan matanya. Ia sangat murka mendengar jawaban Shige, sepupu kesayangannya. Tanpa pikir panjang, Semias langsung menampar pipi Shige dengan keras.
"Kau pengkhianat! Pengkhianat tak pantas hidup!''
Kali ini pukulan keras melayang ke wajah Shige hingga hidungnya berdarah.
Karena mendengar keributan, anak buah Semias datang.
"Ketua, kenapa kau memukul tuan?'' Tanya anak buahnya yang bernama Dexter.
"Dia bukan sepupuku lagi. Dia itu pengkhianat!''
"Maksud ketua apa?'' Tanya Nebula.
"Dia tidak ingin lagi berpihak pada kita, maka dari itu ia lebih pantas mati!''
Semias bersiap melayangkan pukulannya lagi. Tapi tiba tiba tangannya ditahan oleh Shige. Shige langsung menendang perut Semias dengan keras. Ia pun berusaha kabur, Namun Shige dijaga oleh anak buahnya Semias.
Akhirnya bertarunglah mereka. Shige harus menghadapi ke 4 anak buahnya Semias. Berkali kali kalah, tapi Shige tidak akan menyerah. Akhirnya anak buah Semias kalah. Shige pun bisa kabur, walaupun tubuh dan wajahnya penuh luka.
"Jangan lari kau!'' Semias langsung mengejar Shige. Ia masih sangat murka padanya. Ia belum puas jika Shige belum mati.
Shige terus berlari melewati hutan yang gelap. Tak peduli cuaca dingin karena awal musim dingin itu menusuk tubuhnya.
Namun, setengah perjalanan, Shige mulai lelah. Ia pun terduduk lesu. Padahal Semias masih mengejar di belakangnya. Kali ini ia hanya bisa pasrah pada nasibnya.
Tapi tiba tiba, sebuah cahaya biru mendekati dirinya, dan ternyata cahaya biru itu adalah seekor maskot kelinci biru yang lucu. Lalu, maskot kelinci itu langsung masuk ke dalam raga Shige. Dan Shige pun bertransformasi.

"Morph revolution! Blue and white the color of ice, i'm the frozen ice''

Shige terkejut dengan apa yang terjadi barusan. Tubuhnya tidak lagi dipenuhi luka. Kini ia merasa semakin kuat.
Tak lama Semias pun datang, ia juga terkejut melihat Shige.
"Ketua, sepertinya tuan telah menjadi ksatria seven colors!'' Kata Cassara, salah satu anak buahnya Semias.
"Kebetulan, ayo kita bertarung...'' kata Semias sambil tersenyum sinis.

***

Pip pip pip
Jam tangan Yuya dan Massu berbunyi tanda ada bahaya. Tanpa pikir panjang, mereka berdua langsung bertransformasi dan mencari bahaya itu.

Sementara itu Shige masih bertarung dengan Semias. Semias mencoba menyerang Shige dengan kekuatannya, tapi Shige bisa menangkisnya dengan kekuatan barunya, yaitu kekuatan es. Karena selalu kalah, Semias mengeluarkan 4 monster, yaitu monster pasir, singa, batu, dan serigala. Shige agak takut. Tapi ia berusaha untuk tidak takut. Karena sekarang ia telah memiliki kekuatan super.
Tak lama yuya dan massu tiba. Mereka terkejut melihat seorang ksatria seven colors baru. Yuya dan Massu tidak tahu jika itu adalah Shige.
Nebula yang melihat 2 ksatria seven colors lagi langsung berteriak, ''ketua, para ksatria seven colors lagi!''
Tanpa basa basi Yuya dan massu langsung menyerang 2 monster. Yuya menyerang monster pasir, dan massu menyerang monster batu. Shige kaget melihat Yuya dan massu, ternyata mereka berdualah para ksatria seven colors. Dan sekarang dirinya pun juga adalah seorang ksatria seven colors. Shige tersenyum dan langsung menghadapi 2 monster yang tersisa, yaitu monster singa dan serigala.
"Ksatria seven colors, kenapa kalian harus muncul...'' gumam Semias geram. Ia benar benar muak dengan kehadiran para ksatria seven colors. Dan apalagi sepupunya juga menjadi ksatria seven colors.

"COLD FREEZER!"
Shige membekukan lengan monster singa yang bersiap mencakarnya. Monster singa itu mengaum dan memukulkan tangannya ke tanah sehingga es yang menutupi lengannya pecah dan hancur. Monster singa pun bersiap untuk mencakar Shige lagi. Tapi untung Shige bisa menghindar. Ia terbang sampai ke hadapan wajah Monster singa dan lalu Shige membekukan mata Monster singa itu agar kesulitan melihat. Dan Monster singa itu langsung mengaum keras dan tak terkendali hingga jatuh terduduk. Sementara Monster singa sedang payah, Shige langsung mengalahkannya saat itu juga.
"ICE ATTACK!"
Akhirnya Monster singa pun kalah. Kini tinggal Monster serigala.

Sementara itu massu juga sedang berusaha mengalahkan Monster batu. Monster batu itu cukup tangguh hingga membuat massu agak kesulitan.
"Uuhh.. GREEN SEED!"
Sekali lagi Monster itu menangkis serangan massu. Dan lalu memukul massu hingga massu terlempar menabrak pepohonan. Massu meringis kesakitan. Ia lalu teringat bahwa dirinya adalah pengendali tumbuhan. Maka dari itu, Massu menjadikan pohon pohon di hutan itu menjadi rudal untuk menyerang Monster batu.
Monster batu itu jatuh terduduk akibat serangan Massu tadi. Tapi Monster batu itu belum kalah, ia bangkit lagi dan kembali menyerang Massu. Massu juga bersiap menyerang. Monster batu itu melakukan pukulan pertama, namun bisa Massu tangkis dengan tangannya. Setelah itu Massu membalasnya dengan pukulan dan tendangan keras. Hingga Monster itu terdorong ke belakang. Tapi sial, setelah itu Massu tertangkap Monster batu itu dan Massu dicengkram kuat hingga Massu kesulitan bergerak dan bernapas. Setelah agak payah, Monster itu melempar Massu hingga Massu terpental menabrak pepohonan.

Sementara itu Yuya juga berusaha mengalahkan Monster pasir. Memang agak sulit karena Monster pasir itu selalu saja bisa lolos dari serangan Yuya. Sebab Monster itu terbuat dari pasir, ia selalu bisa tembus pukulan dan lemparan. Satu satunya yang bisa mengalahkannya adalah air. Tapi Yuya tidak memiliki kekuatan air, ia cuma punya kekuatan petir. Yuya pun bingung harus bagaimana. Disaat Yuya sedang kebingungan, Monster pasir itu menghajar Yuya sampai Yuya terjatuh diantara pepohonan.

Kini tinggal Shige yang masih kuat. Monster serigala masih ia hadapi. Tapi kemudian Monster serigala itu dibantu oleh Monster batu dan Monster pasir.
"Oh tidak...'' gumam Shige takut. Saat melihat Yuya dan Massu sudah tidak berdaya, ketakutannya semakin menambah. Ia harus hadapi 3 Monster sekaligus!

Serangan dari para Monster itu secara berbarengan sehingga membuat Shige kesulitan. Akhirnya Shige pun juga bernasib sama seperti Yuya dan Massu.

"Hahahaha... Monster monsterku memang tiada tanding'' kata Semias.
"Mampuslah kau ksatria seven colors'' tambah Semias lagi.

Yuya mencoba bangkit dari jatuhnya. Begitu pula Shige dan Massu.
"H...heii...'' panggil Yuya ke Shige.
Yuya terkejut saat melihat Shige. Ia mulai mengenali wajah Shige.
"Shige? Itu kau? Bagaimana kau bisa jadi seperti ini?'' Tanya Yuya lagi.
"Ceritanya panjang, kau tak perlu tahu. Sekarang, kita kalahkan mereka dulu...'' jawab Shige.
"Tapi bagaimana? Mereka sangat kuat'' kata Massu.
"Ayo kita bersatu menggabungkan kekuatan kita'' kata Shige sambil menggenggam tangan Yuya dan Massu.

"Ketua, mereka bangkit!'' Seru Emma.
"Apa?!'' Kata Semias terkejut.
Semias terkejut melihat para ksatria seven colors belum mati.

"COLD FREEZER!"
Serangan pertama dari Shige, membuat ketiga monster itu membeku.
"GREEN SEED!" Serangan kedua dari Massu. Membuat ketiga Monster itu kesakitan di dalam es yang dibuat shige.
"LIGHTNING CRASHING!" Dan Serangan ketiga dari Yuya. Membuat ketiga monster itu hancur bersama es yang membekukan mereka.
Akhirnya ketiga monster itu pun kalah. Semias dan anak buahnya langsung pergi dan malu atas kekalahannya dan mengancam bahwa mereka akan kembali.

"Yeeyyy! Kita berhasil lagi!'' Sorak Yuya senang.
Tapi shige malah berjalan pergi meninggalkan Yuya dan Massu.
"Tunggu, shige kau mau kemana?'' Panggil Yuya.
"Aku tidak pantas bergabung dengan kalian. Aku sebenarnya adalah orang jahat''
"Kau bicara apa shige. Kau Sekarang adalah ksatria seven colors!'' Kata Yuya.
"Iya. Kita bukankah berteman? Kau bukan orang jahat di mata kami'' sambung Massu.
"Iya shige. Kini kau dan kami adalah ksatria seven colors. Jadi harus selalu bersama''
Mendengar kata kata Yuya dan Massu, air mata shige mengalir. Ia sungguh terharu. Ia pun langsung berlari memeluk Yuya dan Massu.
"Terima kasih.... teman''

End.
Tunggu ep 4 nya.

Fanfic NEWS: THE POWER OF SEVEN COLORS ep 2

"Kurang ajar!''
Teriak Semias kesal. Nama lengkapnya adalah Semias Vossen, dia adalah ketua geng jahat ''The Silent Death''. Semias benar-benar marah saat mengetahui kemunculan ksatria Seven Colors.
"Ini tidak boleh dibiarkan! Para ksatria itu bisa menghambatku untuk membuat ketakutan seluruh manusia di bumi! Emma, cepat kau pergi dan habisi mereka!'' Perintah Semias dengan galak.
"Baik, ketua...''

***

Pagi hari di sekolah.
Sekolah sudah ramai didatangi para murid karena sebentar lagi bel berbunyi. Namun saat itu Yuya belum datang.

Saat itu Yuya masih terburu-buru di rumahnya. Dengan cepat ia mengenakan seragam, mengambil tas, memakai sepatu dan berangkat.
"Aku berangkat!''

Yuya terus berlari sampai sekolah sebelum bel berbunyi. Karena jika bel sudah 3 kali berbunyi, maka gerbang sekolah akan ditutup.

Pintu gerbang sekolah sudah di depan mata Yuya. Terdengar bel telah berdering 2 kali. Yuya semakin cepat berlari. Bel yang ke 3 kali pun berbunyi, sedangkan Yuya hampir sampai.

Pintu gerbang mulai ditutup oleh penjaga sekolah.
"Tidak! Jangan dulu!!'' Teriak Yuya panik. Akhirnya dengan sedikit perjuangan Yuya bisa melewati gerbang sekolah. Tepat saat Yuya sudah berada di dalam, gerbang pun tertutup.
Setelah itu, Yuya kembali berlari untuk menuju ke kelasnya. Tapi tiba-tiba ia menabrak seorang anak laki-laki yang sedang terdiam kebingungan mencari kelas.
"Hei kau! Kenapa kau disitu? Kau menghalangi jalan!'' Bentak Yuya pada anak itu.
"Maaf, maafkan aku. Aku sedang mencari kelas baruku yaitu kelas 10 b.'' Jelas anak itu. Yuya menatapnya sejenak sambil mengernyitkan alisnya ,''kau anak baru kah?''
"Iya . Aku baru pindah hari ini. Maukah kau menunjukkanku kelas 10 b?'' Pintanya.
"Oh kebetulan itu kelasku. Ayo ikut!''
Yuya menggandeng tangan anak itu untuk sampai ke kelas 10 b. Sambil berjalan mereka memperkenalkan diri. Nama anak tadi adalah Takahisa Masuda. Dia adalah anak yang baik. Memiliki wajah yang imut dan lucu. Ia pindah sekolah karena mengikuti orang tuanya yang selalu dinas di berbagai kota. Setiap 2 tahun selalu pindah. Memang merepotkan. Massu sebenarnya sudah bosan karena selalu berpindah sekolah. Ia bilang sekolah yang ia tempati kali ini adalah yang terakhir. Tak mau pindah pindah lagi.

"Nah, ini dia kelasku. Kelas 10 b''
Yuya melihat ke dalam kelasnya. Belum ada guru yang masuk. Yuya bernapas lega. Ia lalu menarik tangan Massu dan menyapa semua temannya. Namun Massu belum mau masuk. Ia masih takut melihat teman teman barunya.
"Ayo masuk''
"Na.. nanti dulu. Aku... malu....'' ''hah? Malu?''
"Iya.. kau duluan saja...''
"Massu, kalau kau terus di luar kau akan dimarahi guru''
Massu menundukkan wajahnya. Dan mengangguk , ''baiklah...''.
Massu akhirnya mau masuk ke dalam kelas. Dengan tetap menundukkan wajahnya. Berbeda dengan Yuya yang begitu ceria menyapa temannya dan memperkenalkan Massu ke semua temannya.
"Massu, kau jangan menunduk terus! Cepat kau sapa mereka!''
"Ta... tapi...''
"Sudah cepat sana. Mereka tidak akan menjahatimu''
Dengan gugup, Massu menyapa teman teman barunya, ''ohayou... g... gozaimasu....''
Massu menunjukkan wajahnya yang imut itu. Semua teman teman di kelas 10 b langsung terpana melihat wajah imut Massu.
"Tegoshi, teman barumu super kawaii!'' Teriak salah satu teman perempuan Yuya.
"Lihat, mereka semua senang berteman denganmu'' kata Yuya sambil memegang pundak Massu. Massu hanya tersenyum. Kali ini ia mulai percaya diri untuk menghadapi teman teman barunya.
Yuya mempersilahkan Massu untuk duduk bersama dengannya. Mulai dari situ lah mereka makin akrab. Saat diberi latihan oleh guru, mereka bekerja sama saling membantu. Saat istirahat, mereka pergi ke kantin berdua. Yuya senang telah menemukan teman baru. Dia baik juga punya wajah imut.
"Massu,kau tidak memesan makanan?''
"Ah tidak. Aku sudah bawa bekal''
"Hmm wanginya seperti gyoza''
"Ini memang gyoza. Aku suka sekali gyoza''
"Boleh aku mencobanya?''
"Tentu''
Yuya mengambil salah satu gyoza dari kotak makan milik Massu yang cukup besar , ''mmmyamm... oishii..''
"Kau tahu, ini dibuat berdua bersama kakakku''
"Ini benar benar enak. Kau dan kakakmu memang hebat''.

Sementara itu di kursi paling pojok di kantin ada Emma. Emma sedang menyamar menjadi murid sekolah. Niat ia saat itu adalah membuat seluruh siswa dilanda ketakutan. Karena setiap ketakutan umat manusia akan menjadi energi bagi Semias untuk menghancurkan umat manusia di muka bumi. Tidak hanya Semias yang mendapat energi dari ketakutan manusia, anak buahnya pun juga mendapat energi tersebut. Jadi semakin banyak manusia yang ketakutan, semakin banyak pula energi yang semias dan anak buahnya dapatkan.

Emma sedang mencari waktu yang tepat untuk memulai aksinya, yaitu pada saat pulang sekolah. Karena pasti semua murid akan berhamburan keluar untuk pulang ke rumahnya masing2.

***

"Massu, kita pulang bersama yuk. Kau sendirian kan hari ini?''
"Mm.. ayo''

Saat itu juga Emma memulai aksinya. Dia membuat langitnya menjadi gelap gulita. Semua murid panik melihat sosok Emma yang sedang melayang di udara.
"Hei manusia, bersiaplah untuk hancur dan lenyap dari muka bumi ini!''
"Dan untuk ksatria seven colors cepat tunjukkan sosokmu dan hadapi aku!'' Lanjut Emma. Setelah itu Emma membuat dua buah Monster. Monster ular dan Monster besi. Alhasil semua orang yang ada disana ketakutan.
"Ketakutan kalian adalah kekuatan bagiku wahai umat manusia! Hahaha...'' gumam Emma sambil tertawa jahat.
Lalu 2 Monster itu langsung memulai serangannya. Membuat semua orang lari ketakutan. Dan membuat apa yang ada di dekatnya hancur.

Yuya dan Massu juga ikut panik melihat kejadian itu. Apalagi Massu, ia baru pertama kalinya melihat Monster super besar dan menyeramkan dengan mata kepalanya sendiri.
"Tegoshi, kita harus lari sebelum Monster itu membunuh kita''
"Tidak. Aku akan menghadapi Monster Monster ini''
Mata massu terbelalak kaget, ''Apa!?'' Ia kaget  mendengar kata kata Yuya yang terkesan tidak mungkin berhasil.
"Bagaimana bisa? Ayo cepat kita lari?''
"Kau duluan, Massu!''
Karena Monster semakin mendekat, massu langsung berlari ketakutan. Tapi yuya tidak.

"Tegoshi! Lari! Cepaat!!'' Teriak massu dari jauh.

Yuya tidak lari. Ia akan berubah menjadi The lightning thunder.
"Charge modification! Yellow and orange The color of lightning. I'm the lightning thunder!''

Massu yang melihat Yuya berubah hanya bisa menganga. Dan ia bukannya berlari lagi, malah ia mendekat untuk melihat aksi Yuya melawan Monster Monster itu.
Massu mengucek-ngucek matanya. Ia masih belum percaya apa yang terjadi saat itu.

Emma sangat santai melihat manusia berlari tunggang langgang karena ketakutan. Tapi ia kaget saat melihat monster buatannya tiba-tiba tersambar petir. Yang sebenarnya petir itu adalah kekuatannya Yuya.
"Rupanya kau muncul juga, ksatria seven colors''
"Kau siapa?''
"Namaku adalah Emma Chalice. Anggota The silent death. Misi The silent death adalah mengumpulkan jeritan ketakutan manusia untuk bisa menghancurkan dunia ini''
"Kau tidak boleh menghancurkan dunia manusia!''
Yuya maju untuk melawan Emma. Namun si monster besi langsung melindungi Emma dari serangan Yuya. Karena itu, Yuya terlempar jauh.
"Sial!''
Yuya tidak mau menyerah. Kali ini ia harus melawan si monster besi itu agar bisa berhadapan dengan Emma.
Yuya menendang monster besi itu dengan keras hingga monster itu terjatuh. Sangat terlihat tidak mungkin karena monster besi itu sangat besar. Tapi itulah kekuatan yang luar biasa.

Si monster besi bangkit kembali dan membalas serangan Yuya. Ia berusaha memukul yuya. Akan tetapi Yuya dengan cepat menghindar. Ia bisa menghindar dengan cepat secepat kilat. Hingga monster besi itu kesulitan karena yuya gerakannya begitu cepat.
"Enyahlah kau besi rongsokan besar. VOLTAGE WAY!!!"
Serangan Yuya tepat sasaran. Dan akhirnya monster besi itu kalah. Tinggal satu lagi yang perlu ia hadapi, yaitu monster ular.

"Sekarang tinggal ular jelek ini. Baiklah!''
Yuya kembali bertarung. Kali ini dengan monster ular. Serangan pertama dimulai oleh si monster ular. Monster ular itu menyemprotkan bisanya ke arah Yuya. Tapi untungnya, Yuya bisa menghindar.
Bisa Monster ular itu cukup berbahaya. Bila Yuya terkena bisa itu, ia tidak akan bisa menggerakkan tubuhnya. Agar hilang, si Monster ular itu harus dimusnahkan.
Monster ular itu tak henti hentinya menyemprotkan bisanya hingga membuat Yuya kesulitan untuk menyerang balik.
Akhirnya yuya berlari ke belakang Monster ular itu dan menembakkan kekuatan petirnya dari belakang Monster itu.
Namun sial. Setelah itu, ekor Monster ular melilit tubuh yuya. Dan setelah itu langsung dilemparkannya. Yuya terpental jauh menabrak gerbang sekolah. Monster ular itu langsung menembakkan bisanya ke arah Yuya yang sedang berusaha bangun. Tapi dengan cepat, Yuya membuat perisai petir agar bisa Monster ular tidak mengenai dirinya.
Pertarungan Yuya dengan Monster ular semakin sengit. Yuya juga mulai kewalahan menghindari semprotan bisa Monster ular.
"LIGHTNING BEAM!"
Tapi serangan Yuya tidak mengenai Monster ular itu karena dengan cepat, Monster ular itu menghindari serangan Yuya. Dan Monster ular itu kembali menembakkan bisanya.
Namun sial, Yuya belum sempat menghindar. Maka dari itu ia terkena bisa ular itu. Yuya pun terjatuh dan kesakitan. Dan tubuhnya sulit untuk digerakkan.
"Rasakan itu, ksatria seven colors. Beberapa jam lagi kau akan mati!''

Sementara itu, Massu yang sedang ketakutan bingung harus berbuat apa. Tiba tiba Monster ular mendekatinya dan bersiap menembakkan bisanya.

"Massu!!''
Teriak Yuya. Ia ingin menolong massu tetapi tubuhnya tidak bisa digerakkan. Untungnya massu bisa menghindar.
"Lari massu! Sejauh mungkin!''
"Tapi aku tidak mau meninggalkanmu sendiri!''
"Tak usah pedulikan aku. Cepat lari sebelum Monster itu membunuhmu!''
Monster ular itu semakin dekat ke Massu. Akhirnya Massu kembali berlari.
Akan tetapi tiba tiba Massu terjatuh hingga dengkulnya lecet. Massu sambil sedikit meringis kesakitan, ia berusaha bangun kembali. Ia kembali berlari, namun saat itu ia mulai lelah. Tapi Monster ular itu tetap mengejarnya. Karena Massu sudah terlalu lelah, ia pun jatuh terduduk. Ia pasrah saja akan apa yang terjadi pada dirinya nanti.

Tiba tiba seekor maskot kucing berwarna hijau muncul dan langsung masuk ke dalam jam tangan yang dikenakan Massu. Massu pun langsung bertransformasi menjadi superhero.

"Reborn evolution! Green the color of plants, i'm the Green Plants''

Massu terkejut saat melihat dirinya berubah wujud , ''a...apa yang terjadi?''
Yuya yang melihat dari kejauhan juga ikut kaget melihat Massu berubah menjadi superhero. Sama seperti dirinya.

Monster ular itu sudah berada di depan Massu dan mulai menembakkan bisanya. Massu yang tidak tahu harus berbuat apa hanya menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Untungnya sebuah perisai tanaman melindungi dirinya.
Massu menurunkan kedua tangannya. Ia heran melihat pohon berbentuk perisai di depannya. Karena penasaran ada yang aneh di dirinya, Massu menjulurkan tangannya. Ia kaget melihat akar dan dedaunan keluar dari telapak tangannya.
"Aku.. punya kekuatan super kah?'' Gumam Massu bingung.

Monster ular kembali menyerang. Dengan cepat, Massu menghindari serangan tersebut.
Mengingat Monster ular itu telah melukai teman baiknya, Massu pun memberanikan diri untuk bertarung melawan Monster itu demi menyelamatkan Yuya.

Yuya hanya bisa tersenyum bangga melihat Massu dapat bertarung Dengan Monster ular itu. Tapi ia juga khawatir takut Massu terkena semprotan bisa ular besar itu. Ia ingin membantu. Tapi apa daya, tubuhnya tidak bisa digerakkan.

Massu masih terus berjuang melawan Monster ular itu. Ia tak peduli berapa kali terkena pukulan ekor ular besar itu. Yang hanya dipikirannya hanya menyelamatkan Yuya.
"Kau tak akan kumaafkan! BOTANICAL POWER!''
Dddduuuaaarrrrr.......!!!!!

Akhirnya Monster ular itu lenyap dan Yuya bisa kembali menggerakkan tubuhnya.
Sementara itu Emma sangat kesal menerima kekalahannya. Ia pun pergi kembali ke markas the silent death.

"Massu, kau hebat. Dan terima kasih sudah menyelamatkanku''
"Sama-sama. Aku benar-benar tidak menyangka bisa menjadi seperti ini''
"Aku juga awalnya tidak menyangka.''
"Tapi kenapa kita yang terpilih menjadi ksatria seven colors? Kita kan cuma murid sekolah biasa.''
"Itu karena kebaikan dan keberanian hati kita.''
Massu tersenyum. Yuya pun membalas senyuman Massu.
Mereka berdua pun berpelukan. Sorak gembira para warga juga menambah rasa haru mereka berdua.

End.
Tunggu ep 3 nya nanti.

Fanfic NEWS : THE POWER OF SEVEN COLORS ep 1

Author: dwie shigemassu (Dwi Nur Asiah)
Genre: action, superhero
Characters: NEWS member

Hai semua...
Maaf nih baru ngepost lagi. Oh ya, ini aku ada fanfic NEWS, silahkan dibaca....

Tengah malam di sebuah hutan di jepang.
Seorang wanita misterius sedang melakukan ritual pemanggil peri peri maskot kecil yang memiliki kekuatan super. Wanita itu terus mengetuk-ngetukkan tongkat emasnya ke tanah sambil berkata, ''Wahai para peri Negri Seven Colors, turunlah ke bumi dan carilah orang-orang pemberani untuk menghentikan kejahatan yang dibuat oleh para kelompok The Silent Death''
Beberapa lama kemudian muncul sinar berwarna warni dari atas langit. Kemudian sinar itu terbagi menjadi 4 bagian yaitu warna kuning campur orange, hijau, biru campur putih, dan merah. Dan cahaya itu berubah menjadi peri maskot yang lucu.
Wanita itu mengayunkan tongkat emasnya ke atas dan lalu para peri maskot itu pergi untuk mencari para ksatria pemberani itu.

***

Siang itu di kota Shibuya.
Seorang anak laki-laki bernama Yuya Tegoshi sedang menuju ke lapangan untuk berlatih sepak bola. Ia membawa bola kesayangannya yang baru ia beli 2 bulan yang lalu saat ia pergi ke mall bersama temannya.
Lapangan bola yang akan ia datangi tak jauh dari rumahnya. Sesampainya di sana ia menyapa semua temannya yang sudah hadir untuk berlatih.
"Konnichiwa!''
Sapa Yuya dengan senyum lebarnya. Hari itu memang adalah hari yang paling menggembirakan bagi Yuya. Karena sudah seminggu ia tidak main sepak bola karena hujan dan ia sempat sakit selama 3 hari.
"Haa pasti kau membawa bola kesayanganmu kan?'' Tanya salah satu temannya Yuya.
"Pasti! Dia tak boleh kutinggalkan sendirian di kamar''
Tak lama temannya yang lain datang juga ke Lapangan. Mereka datang dengan wajah yang gembira. Cuaca cerah hari itu pun turut serta membuat mereka sangat bersemangat.
Yuya dan temannya berlatih untuk pertandingan sepak bola antar sekolah yang akan berlangsung 1 bulan lagi. Masih banyak waktu untuk berlatih agar bisa menang. Latihan mereka dibimbing oleh guru olahraga mereka, yaitu Kyoichi Sensei. Dia adalah guru olahraga yang baik dan menyenangkan. Semua murid senang diajar oleh Kyoichi Sensei.
Setelah 1 jam berlatih mereka istirahat. Ada yang minum saja dan ada juga yang membawa makan. Saat itu Yuya hanya membawa sebotol sirup dan 2 buah sandwich.
"Tegoshi, boleh kami pinjam bolanya sebentar untuk bermain?'' Pinta salah satu temannya Yuya saat Yuya sedang makan.
"Tunggulah sebentar. Aku juga mau ikut main''
Yuya tidak mau jika bolanya dipakai orang lain tanpa dirinya ikut bermain. Karena ia begitu menyayangi bola itu.

Sementara itu di jalan kota Shibuya yang ramai. Yang tadinya langitnya terang benderang kini berubah menjadi gelap gulita. Langit gelap itu juga menutupi Lapangan tempat Yuya berlatih sepak bola.
"Hah? Hujan lagi, kah?'' Gumam Yuya.
Tiba2 tanah bergetar hebat. Dan lalu dari jalanan kota muncul seekor monster setinggi 25 m menyerang kota dengan ganas. Ketenangan serta kesibukan warga kota kini menjadi ketakutan yang amat sangat. Monster itu merobohkan gedung, menginjak mobil-mobil dan melemparkannya dan juga membuat jalanan menjadi rusak.
Lalu Monster itu menuju ke lapangan dimana Yuya berada. Dengan ganas Monster itu menghancurkan pagar lapangan dan langsung menakut nakuti Yuya dan teman-temannya.
"Lari!! Ada Monster !''
Teman-teman Yuya lari kalang kabut saking takutnya. Yuya juga takut saat itu. Ia lupa bahwa bolanya masih tergeletak di tanah lapangan. Belum sempat Yuya mengambil bola, bolanya sudah terinjak oleh Monster itu dan hancur. Yuya yang melihat itu langsung lemas dan mulai merasa marah.
"Grrrrhhh Monster jelek, kau harus mengganti bolaku!!'' Dengan sangat sangat marah, Yuya berlari menuju Monster itu, tak peduli dengan teriakan temannya yang mencoba mencegah Yuya untuk menghampiri Monster mengerikan itu.
Dengan segenap kekuatannya, Yuya terus memukul-mukul Monster itu. Tapi sang Monster tidak merasakan sakit walaupun Yuya sudah memukulnya dengan keras beberapa kali.
"Ganti bolaku dengan yang baru!'' Teriak Yuya.
Tapi tiba-tiba monster itu menangkap Yuya dan lalu mengaum keras di depan wajah Yuya.
"Huh ... mulutmu bau sekali! Cepat turunkan aku, Monster bau!'' Kata Yuya dengan santai. Tak peduli betapa seramnya Monster itu.
Dengan cepat Monster itu langsung membanting Yuya dengan keras ke tanah lapangan. Oleh karena itu, Yuya pun jatuh pingsan. Sementara itu, si Monster sedang bersiap-siap untuk menginjak Yuya yang sedang pingsan.
Tiba-tiba muncul seekor maskot lucu berbentuk burung merpati berwarna kuning orange datang dan masuk ke dalam jam tangan yang dikenakan Yuya saat itu. Sebuah keajaiban terjadi.
Yuya bertransformasi menjadi superhero!
"Change modification! Yellow and orange, the Color of lightning. I'm the lightning thunder!''
Beruntung saat kaki monster itu hampir mengenai tubuh Yuya, Yuya dengan cepat menghentikannya dan lalu mengangkat monster itu sekuat tenaga. Monster itu benar-benar terangkat tinggi oleh Yuya. Yuya bisa seperti itu berkat kekuatannya. Dan lalu Yuya membanting balik Monster itu dengan keras.
Sadar ada yang aneh dari dirinya, Yuya langsung kaget melihat pakaian yang dikenakannya dan melihat ke kedua telapak tangannya. Ada beberapa kilatan petir di telapak tangannya.
Monster yang tadi telah dibanting Yuya, kini bangkit kembali untuk membalas Yuya. Monster itu mengeluarkan cakarnya dan mengayunkan cakarnya itu ke arah Yuya.
Karena takut, Yuya menyilangkan tangannya. Secara tak sadar, perisai petir terbentuk dan melindungi dirinya dari cakar Monster tersebut. Sementara itu si Monster bergetar hebat akibat mengenai perisai petir Yuya.
"Ow.. ini hebat!'' Gumam Yuya sambil tersenyum.
Si Monster tetap tidak lengah. Ia terus berusaha melawan Yuya dengan cara apapun. Maka dari itu, si Monster menyemburkan api dari mulutnya. Dengan cepat Yuya menghindari semburan api itu.
"Oh kau masih menyerang ya? Kalau begitu, rasakan ini, LIGHTNING BEAM!"
Tapi serangan Yuya meleset. Serangannya malah mengenai tiang listrik. Padamlah listrik di kota itu.
"Ups.. aku salah sasaran...''
Yuya belum dapat menguasai kekuatannya secara utuh. Alhasil saat ia menyerang, selalu saja meleset.
Tiba-tiba Yuya ditangkap lagi oleh Monster itu. Karena sangat marah, Monster itu menggenggam Yuya dengan kuat.
"Lepaskan... aku... uugghhh..''
Yuya berusaha sekuat tenaga agar bisa lepas dari genggaman Monster itu. Seluruh kekuatannya ia keluarkan. Alhasil, si Monster terkena sambaran petir dari kekuatan Yuya dan langsung melempar Yuya jauh-jauh.
Si Monster mulai agak melemah akibat sambaran petir Yuya. Maka dari itu, Yuya menggunakan kesempatan itu untuk menyerang Monster itu.
"Kali ini harus konsentrasi. LIGHTNING CRASHING!!''
DDUUAARRRRRR!!
Yuya berhasil mengalahkan Monster tersebut.
"Wah.. aku berhasil! Yyeeaahh!'' Sorak Yuya sambil melompat kegirangan.
Setelah Monster itu lenyap, langitnya kembali terang benderang. Yuya senang sekali karena ia bisa menyelamatkan kota dari Monster tadi.

Dari atas gedung, ada seseorang yang menatap Yuya dengan sinis. Ia adalah Emma Chalice anggota The Silent Death.
"Aku akan membalasmu ksatria Seven Colors!''

End.
Selanjutnya di episode 2 yaaa....

Sabtu, 17 Mei 2014

Baju NEWS

Akhirnya nih baju nyampe juga dengan selamat ke rumah gue. Ini cuma fanmade bukan official. Kalo beli yang official kaga ada duitnya. Hehehe pisss..

Baju ini bakal gue pake buat ada acara2 sama buat pergi ama di rumah. Hehehe.

Kapan2 gue mau pesen lagi ah...

Posted via Blogaway


Posted via Blogaway

Kamis, 15 Mei 2014

Idungmu itu lho


Sumpeh deh ni lucu dan koplak banget sih si shige ini. Lagian pake idung palsu begini. Iya sih ini cuma buat video klip doang. Tapi gimana ya.

Pokoke ini dandanan terkoplak shige di video Shalala Tambourine.
Gimana gitu. Kegedean idungnya.

Aye paling suka sama yang pas jadi cewe itu. Cantik juga yee.. Tapi klo dibandingin sama Yuya masih cantikan Yuya.
Tapi gapapa.

Tamfan tamfan didandanin kaya gini jadi lucu hahahahahaha...


Posted via Blogaway

Rabu, 14 Mei 2014

Posting Piku part 1

Mam teyuuss biar embul
Iii lucunya pacar gua. Pake bando ginian. Imuuut banget. Ini foto massu di acara Regular Shownya dia.
Ngeliat ini jadi pengen melihara kelinci
Aaahhh si pangeran ganteng. Tamfannya unlimited. Cetarrr membahana.
Itu pipi pengen gua cubiiiittt... gemessss

Malem ini aye kaga bise tidur. Mikirin kiriman kaos yang di pesen belom dateng dateng juga. Ya udh lah aye posting piku aje ye...


Posted via Blogaway

Download NEWS One For The Win Mp3

Hai hai
Ketemu lagi sama akuuuu....

Oh iya lagu ini adalah lagu barunya NEWS. Sebenernya sih rilisnya bulan depan. Tanggal 11 juni. Lagu ini dapet dari radio rip. Jadi suaranya masih kecil gitu. Terus jg lagunya blm selesai semua. Ya Namanya juga radio rip. Ya dah lah langsung aja di download.

 Download here 


Posted via Blogaway